Heyya
Gue beberapa bulan terakhir memutuskan men-shut down beberapa sosial media yang gue punya. Alesannya: udah ga menarik dan yah, malahan banyak dosa yang gue bikin, postingan orang2 aneh yang malah bikin gue tambah sebel dan justru ngomongin mereka dibelakang.
Mungkin gue harus menutup juga satu-satunya platform menulis yang gue suka ini, satu-satunyaa tempat gue bisa cerita tanpa interupsi, satu-satunya tempat gue bisa menuangkan imajinasi gue.
Iya blog ini mungkin akan jadi korban selanjutnya untuk gue tutup. Kehadiran blog ini justru membuat pandangan orang ke gue bertambah jelek. Dan justru menimbulkan banyak konflik padahal first time gue bikin ini, semua totally sebagai wadah gue buat hobby gue yang mungkin ga banyak orang tau.
Gue minta maaf. Untuk semua orang yang tersakiti gue minta maaf.
Apapun pandangan kalian tentang gue, gue akan terima. Kalian bebas berpendapat, kalian bebas menjudge gue ini itu, gue bukan tipe orang yang harus capek-capek menjelaskan seperti apa gue ini sebenernya. Biar aja penilaian orang kaya begitu. Gue ga ada niat buat ngebenerin atau nyalahin, buang-buang waktu aja.
By the way to everyone yang ngerasa involved karena secuil dua cuil postingan gue di blog ini please jangan kegeeran, stop spekulasi kalian. Bagaimana pun gue penulis yang inspirasi nya dari mana aja. Mungkin hari ini gue nulis tentang lo, tapi besok gue nulis tentang orang lain. Apa yang bikin kalian kegeeran kalau gitu ? Seriously you are not so special to me. Kalau orang itu spesial saya akan treat dia di dunia nyata, bukan di dunia maya seperti ini.
Sudah malam saya besok bekerja.
Untuk spekulator diluar sana saya hanya mengingatkan bahwa hidup mungkin butuh sedikit bahan bercanda.
Aachen, 7.10.2016
23:
Welcome to my miserable life!
Gue mengutuk setiap menit atas perasaan berlebihan ynag kadang tercipta tanpa gue sadari, tanpa otak gue perintahkan. Gue benci, sangat, saat gue lemah, secara psikis, gue ngga suka. Gue benci bergantung dengan orang, karena itu I rarely ask for help. Dan ketika gue rasa gue amat butuh, gue baru akan meminta tolong, if there is something I really can handle. Dan berkali-kali gue tegaskan ke diri gue sendiri supaya nggak seratus persen meletakan hope ke orang yang gue mintain tolong. But it was really hard tho. Ketika gue butuh bantuan, gue akan seratus persen percaya ke orang yang gue mintai tolong, that is why gue ga akan minta tolong sembarang orang. This one must be so reliable.
Tapi sepemilih apapun gue, secermat apapun gue memilih orang untuk gue mintain tolong, gue tetep aja dikecewain, atau lebih tepatnya merasa kecewa. Bukan salah mereka, salah gue terllau punya ekspektasi ketinggian, bahwa mereka bisa seratus persen melakukan apa yang sudah gue harapkan.
Dan parahnya ketika gue kecewa sama orang, gue akan terang-terangan menunjukan itu. No fake emotion or poker face. Gue akan straight nunjukin ke mereka bahwa gue kecewa, entah mereka realize atau ngga ( it's better not to realize that ).
So daripada semakin banyak list orang yang bikin gue kecewa, gue lebih baik menghindar, menghindar untuk minta tolong orang, menghindar walaupun mereka terang-terangan bilang "Kalau butuh bantuan bilang ya Cit". I don't really know if they mean it or not. I'd rather stand on my own two feet.
Aachen, 14.09.2016
22:01
Bulan sudah sepenuhnya muncul
Hening suara malam dan angin yang berhembus makin kencang
Mengantarkannya pada suatu renungan
Seperti sebuah refleksi diri, dia bertanya
Apa gerangan yang membuatnya bisa jatuh cinta?
Atau tepatnya jatuh hati.
Mencari-cari sebuah alasan, rasanya kurang pantas
Bukannya cinta itu murni tanpa syarat, tanpa alasan?
Dia yakin cinta yang dimiliki nya bukan cinta yang pamrih
Dan bukan juga cinta yang egois
Semakin larut belum ada satu huruf pun tertulis di layar ponselnya
Ya, dia terbiasa untuk bercerita dengan sang benda kecil kesayangannya itu
Bukannya tak ingin berbagi, dia hanya tidak ingin merepotkan orang lain
Lalu kilas balik kisah masa lalu berputar di kepalanya
Saat dia pertama kali bertemu dambaan hati
Semata karena sebuah kesamaan, sama-sama mencintai dunia fotografi
Lalu kemudian kepada kejadian-kejadian lainnya
Seperti misalnya: bertukar buku-buku fiksi
Karena ternyata mereka memang menyukai dunia sastra
Terakhir adalah ketika dia disana
Ruang persegi yang tidak terlalu besar
Mengantarkan dia untuk tetap tinggal karena sebuah tugas yang harus diselesaikan
Lambat laun suara yang dia cukup hafal
Untaian nada dari sang penyanyi idaman mengalun mengisi malam
Ah, lagi-lagi rupanya mereka mempunyai selera musik yang sama
Tapi diantara semua kegemaran yang mereka punya bukan itu alasan nya
Dia pun bukanlah sosok wanita yang jatuh cinta lewat fisik
Tapi dia harus mengakui bahwa sebuah lesung di pipi kiri itu cukup mengagumkan
Membuatnya ingin terus melihat, dan menunggu saat-saat sang lelaki tersenyum
"Manis sekali ya" gumamnya. Apa ada orang lain yang punya pendapat sama?
Akhirnya dua kalimat berhasil ditulis di catatan ponselnya.
Cukup dua karena cinta bukan untuk dijabarkan dengan kata-kata
"Saya menyerah akan rasa nyaman. Rasa itu yang ada di hati saya setiap kali saya bersama kamu."
Itu adalah alasan terkuatnya mengapa dia bisa sampai jatuh cinta
Aachen, 09.07.2016
21:59
Pada suatu sore di hari yang cukup spesial
Diluangkannya waktu untuk mengulurkan tangan
Sore itu padahal turun hujan
Hanya sebentar rupanya, lalu mentari kembali menyapa
Memang cuaca di kota itu segalau perasaan nya
Dia cukup suka hujan
Hujan mengingatkannya akan kenangan manis dulu
Ya, dulu saat semuanya baik-baik saja
Hari itu saat turun hujan dia justru gelisah
Bukan tanpa alasan
Ada satu hal yang terlalu mengganggu
Mengganggu indra penglihatan, indra pendengaran dan indra perasaannya
Tumpukan gelisah sudah semakin membuncah,
Sebentar lagi padahal senja, waktu terbaik baginya
Sayangnya dia sudah tidak lagi sanggup berada disana
Dia ingin pergi,
Hatinya masih ingin disini,
Teringat bahwa ada seseorang yang sangat butuh bantuan
Bayangan peluh orang itu dan lelah raut wajahnya terus membayangi
Membuat dia ingin terus ada disana, meringankan sedikit bebannya.
Tapi otaknya menyuruhnya pergi
Sebelum kelemahan nya terlihat
Iya akan sangat benci jika orang lain memandangnya selemah itu
Belum lagi jika terlalu banyak orang yang melontarkan pertanyaan.
Dia benci, dia terlalu lemah
Bahkan rasa itu menguasai seluruh otaknya
Dia benci itu, lagi-lagi dia tertipu senja
Dulu, senja selalu jadi hal favoritnya bahkan diatas hujan
Tetapi memang benar, sejak saat itu senja tak lagi sama
Senja artinya berpisah dengan mentari
Tapi bukankah setelah senja hilang, bulan akan datang?
Aachen, 7.7.2016
Aku, seperti hujan bulan juni.
Diam, sunyi, melamun tanpa kata.
Menunggu, sampai ada yang datang dan berkata
'tidak ada hujan bulan juni'
Dan bersikeras mereka salah.
Buktinya aku ada, di bulan juni.
Dan aku bersumpah
Demi payung yang melindungi kita dari gerimis kala itu.
Jalanan sepi, mungkin mereka takut, atau justru hanyut dengan kenyamanan sendiri
Sementara kita,
Tidak tahu benar apa yang terjadi
Selain hujan di bulan juni.
Dua makhluk tanggung berusaha berbagi keresahan. Jarak pun tak menghalangi mereka untuk sama-sama mengerti. Lewat sambungan telefon, dia utarakan keresahan yang mengganggu sudah hampir sebulan ini, Dia, sang pemeran utama bukan lah anak yang tertutup, Dia mampu untuk mengatasi masalahnya sendiri. Jika dia sudah mau berbagi, pastilah masalah tersebut sangat rumit.
"Jadi menurutmu bagaimana?" Itu suara si pendengar, teman akrabnya pemeran utama yang sudah bertahun-tahun, sudah pasti paham watak baik dan buruk sang pemeran utama.
"Tidak paham, aku ingin terus diam tapi.. rasanya salah. Aku tidak betah. Tetapi mau bertanya pun tidak punya keberanian. Kau tahu kan nyali ku tidak sebesar itu kalau menyangkut orang yang.. katakanlah aku kagumi"
"Ada baiknya bertanya" jeda lama, karena baik sang pendengar dan sang pemeran utama tak paham mau berkata apa. Terdengar hembusan nafas sang pendengar diujung sana, seakan ingin melanjutkan pembicaraan. " Kau tahu tidak, aku adalah sahabat yang bahagia sekali hari ini "
"Yah bagus sekali, aku bimbang seperti ini dan kau malah bahagia"
Sang pendengar tertawa. Tidak sanggup menutupi rasa bahagiannya. "Aku bahagia, karena ternyata sahabatku sudah mau berbagi cerita, sudah tidak merasa apa apa harus dikerjakan sendiri. Kamu tahu tidak? kami kagum sesungguhnya akan kemampuan mu mandiri, kemampuanmu menyelesaikan apa-apa sendiri, tapi kamu harus tau, kami bisa membantu, kami bisa membantu meringankan bebanmu, jangan merasa sendiri lagi. beri kami sedikit kepercayaan. Aku juga sangat senang karena sekian lama rasanya tidak melihatmu seperti ini"
"Seperti ini bagaimana?" sang pemeran utama tak sabar memotong
"Ya begini, bicara banyak tentang cinta, kembali salah tingkah, mulai menggunakan bahasa yang panjang kalau aku kirim pesan, selalu tersenyum bahagia. Dan aku akan sangat beruntung jika aku tahu kau dan dia bisa bersama"
Terdengar suara hembusan nafas sang pemeran utama, bagaikan tak setuju dengan kalimat barusan. "Bisa bersama bagaimana? kamu tahu posisi ku sekarang seperti apa. Dia dibanding aku itu tidak ada apa apa nya, ralat, aku yang tidak ada apa apa nya. Semua setuju kalau dia lelaki baik, sedangkan aku? aku rasa orang-orang berharap aku enyah saja. Lagipula aku tidak cantik. Mana mungkin dia bisa punya perasaan?"
Sialnya, sang pendengar malah kembali tertawa. "kalau begitu, buat dirimu menjadi lebih baik, jadi kau lebih pantas jika bersama dia kelak."
ya, memang semua yang sang pendengar katakan benar.
"Terima kasih banyak ya, maaf kalau aku akan sering bercerita kedepannya"
"Tidak masalah sama sekali, sudah ku katakan justru aku senang"
Aachen, 26.05.2016
14:12
Duduk diam berhadapan dua sosok berlawanan jenis
Dalam kotak persegi dengan aroma kopi menebar
Temaram lampu gantung dengan sinar matahari yang berubah jingga menemani
Tak lupa alat pendengar berwarna putih tersumbat di telinga
Sang lelaki dengan Barasuara
Duduk sambil menggumam lagu, memang suaranya cukup enak didengar
Dihadapannya
Sang perempuan pun sibuk mendengar alunan khas suara Danilla
Mereka memang diam satu sama lain, enggan untuk berbagi keasyikan
Seolah mengerti segala percakapan yang tidak terucap itu
Entah, memang belum ada yang berani
Atau sama-sama menunggu ada yang memulai?
Mereka hanya begitu, larut dengan kenyamanan dari waktu ke waktu
Belum tahu apakah saling sanggup untuk berbagi lagu
Setidaknya bagi mereka kehadiran satu sama lain menghadirkan nafas baru
Tapi tidak ada yang keluar dari lamunan ini
Sampai matahari benar-benar tenggelam dan kopi ketiga di cangkir sang perempuan habis
Dan lagu Buaian terputar berkali-kali
'Tak perlu kau mengerti rasaku kepadamu, biarkan jadi urusanku,
Tak usah ku pahami, rasamu kepadaku, biarkan jadi urusanmu'
Ini akan menjadi skenario terbaik yang pernah mereka bayangkan
Aachen, 23.05.2016
20:43
Here is the glimpse of a small yet beautiful town, the one I call home for the last two years, Aachen.
Photos are all taken by me, not edited. I will post another photos as soon as possible.
Thank you :)
Mata.
Itu jawabannya jika ditanya 'apa alasanmu mengaguminya?' entah aku pun bimbang, mengapa begitu mudah bagiku untuk bisa kagum kepada seseorang, bukan, kukira ini bukan kagum untuk menjurus ke arah sana, kau paham maksudku, tapi ini kagum akan seseorang karena wibawanya tau karena kepribadian nya. Tapi kali ini pilihanku jatuh pada anggota tubuh, ya aku mengagumi sepasang mata yang beberapa minggu ini mencuri pandang ke arah ku entah disengaja atau tidak, kami sering melemparkan pandangan satu sama lain, dan jika pandangan kami bertemu, kami sama sama berpaling.
Sepasang mata itu yang sedari tadi kuperhatikan, berharap dia melihatku hari ini, tapi mungkin dia belun tersadar juga. Sampai ada waktunya ku beranikan untuk mengajaknya bicara, bukan berdua saja mana mungkin aku seberani itu. Saat kami bicara, matanya menatapku, mencari sesuatu yang tidak ku tahu apa tapi bisa kurasakan itu. Matanya seakan menghipnotisku untuk berlama lama, menikmati dua bola coklat itu, begitu mengagumkan ya ciptaanmu ini tuhan.
"Mau pulang sekarang?" tanyaku hanya sekedar saja,syukur kalo dia membalas.
"Iya, kamu juga kan? Ayo, rumah kita searah bukan"
Memang berlebihan, diajak bicara begini saja aku sudah kegirangan.
Ah, semoga selalu ada hari lain bersamanya, tidak cuma hari ini.
Hari ini aku berjanji menemuinya, hal rutin yang kami lakukan jika sama sama tidak sibuk; memasak bersama. Kedengarannya romantis? Oh percayalah hal seperi ini kami lakukan untuk berhemat.
Bagianku selalu menyiapkan bahan makanan, sedangkan dia yang memasukan ke wajan. Kerja sama yang cukup adil menurutku.
"Kamu seperti nya terlihat senang"
Tanyaku sambil lalu, hanya sekedar berbasa basi. Padahal mulutku sudah gatal untuk bertanya hal yang ebberapa ini amat menggangguku.
"Memang begitu? " dia masih sibuk mencari wajan untuk menggoreng. Huh sok sibuk sekali? Ah aku tanyakan sekarang saja. "Menurutku iya. Bagaimana kabar dia? Kulihat kemarin kau pergi bersamanya"
Dia menghentikan kegiatannya sejenak lalu menjawab pertanyaanku "bukannya dia temanmu? Mungkin kamu yang lebih tau kabar dia seperti apa. Dan ya kemarin aku bertemu dia di halte bus, bukan sengaja bertemu"
Perbincangan ini tiba tiba menjadi sedikit menegangkan. Entah mengapa aku tidak percaya ucapannya. "Kalau kamu pergi dengan dia pun bagiku tak masalah"
Dia sekarang benar benar diam, mematikan kompor untuk masakan yang belum matang. "Kemana arah pembicaraan kita ini? "
Aku menghela nafas. Ikut ikutan meletakan pisau dan menatapnya "aku hanya bertanya"
Dengan Tersenyum sinis dia menjawab "Kamu seperti menginterogasi"
"Kenapa? Kamu merasa tak nyaman aku tanya begitu?" Aku pancing saja dia, lihat dia mau jawab apa
"Kamu cemburu?" Bukannya menjawab dia malah bertanya seperti itu
"Jawab pertanyaanku tadi" ujarku dengan tegas. Enak saja aku yang bertanya tapi bukan dia yang menjawab malah balik bertanya.
"Kamu yang jawab, lalu setelahnya aku yang menentukan sikap atas jawabanmu itu"
Lima detik berlalu tidak ada dari kami yang membuka suara. Karena tak tahan aku ucapkan saja apa yang aku pikirkan. "Cemburu itu kan artinya saat orang yang biasa memperhatikanmu, justru memperhatikan orang lain, dalam hal ini aku tidak merasa mendapat perhatian. dan yang paling penting cemburu itu adalah rasa takut akan kehilangan, sedangkan aku tidak merasa punya apa apa"
Kulihat dia yang kini masih diam, sibuk mengkin mecerna kata kata ku. Rasanya semenit berlalu tapi dia belum juga menentukan sikap atas jawabanku.
Dasar laki laki. Janjinya menentukan sikap tapi apakah selama ini?
"Kamu gapapa kalau aku gak kesana?"
Ini hari jumat. Selalu ada kunjungan wajib setiap hari jumat ketempatku. Maklum jarak kami cukup jauh, butuh setidaknya mengosongkan jumat-sabtu-minggu untuk bisa bertemu.
"Gak masalah, kamu kan sakit. Aku justru khawatir kalo malah kamu maksa nanti kenapa-kenapa dijalan" aku membalas pertanyaannya via telefon.
"Ya sudah jangan lupa minum obat, sekarang istirahat yang cukup. Maafkan aku belum bisa menjenguk, masih ada ujian"
Justru karena persiapan ujian ini aku butuh dia untuk mengajariku, sekalian ada waktu yang kita habiskan bersama. Ga masalah toh? Yang penting buat aku semangat belajar. Sekarang aku belajar di kamar sahabatku, yang akan pergi sebentar lagi.
"Gue pergi dulu ya, nanti lo kalo mau balik ke kamar lo jangan lupa bawa kunci kamar gue"
yah sekarang aku sendiri, sahabatku sudah pergi. Aku mengacungkan jempol, mengiyakan perkataannya tadi.
"Kamu cepat tidur sana, cepat sembuh ya aku lanjut belajar dulu" sambung ku lagi. Aku masih tersambung via telefon.
"Iya, sekali lagi maaf"
Aku melanjutkan kegiatan belajarku. Tapi tak lama ketukan pintu kamar sahabatku membuatku menghentikan kegiatan ini. Ah kebiasaaan, pasti dia balik lagi deh buat ambil sesuatu yang ketinggalan. Memang temanku itu orang yang pelupa.
Aku berjalan ke arah pintu lalu membukannya "apa yang ketingg..."
Aku bungkam. Oh tuhan, manusia ini yang lima menit lalu berbicara denganku via telfon, mungkin sedang terlentang lemah diatas kasur, tiba tiba muncul di depan pintu. Aku bahagia luar biasa.
"Kamu ngapain kesini? Katanya sakit" tanyaku heran.
"Surprise" ucapnya sembari tersenyum lebar.
Detik berikutnya giliran aku yang tersenyum
Hari Jum'at memang selalu se spesial ini kah?
28 januari 2016
Kalau hari ini aku tersenyum senang, bukan semerta merta aku bahagia dengan bertambahnya umurku, satu tahun lebih dekat dengan ambisi ambisi yang dari dulu sudah ku rancang, satu tahun lebih dekat ajal mungkin?
Bukan.
Aku senang bahwa orang orang yang kusayang dan menyayangiku masih tetap bertahan disampingku, masih tetap ada walaupun kekeras kepalaanku, ke manjaan diriku dan ketidak mampuanku mengerti mereka mungkin membuat mereka jengah, tetapi mereka disana, ada di titik terendah yang aku lalui dan juga di titik tertinggi yang pernah aku capai
Kalau hari ini aku tersenyum senang, mungkin ada sebagian hatiku yang tidak merasakan itu, bagian yang sadar bahwa ketika aku bertambah umur, ayah dan ibuku juga bertambah tua. Dan saat ini, aku belum bisa membuat mereka bangga.
Dan kalau hari ini aku tersenyum senang, mungkin itu semua berkat kamu. Terima kasih sudah datang dan pergi ke kehidupannku, sudah mengajarkan apa artinya memiliki dan kehilangan, sudah memberiku makna bahwa apa yang kita sukai tidak bisa selamanya kita miliki, terima kasih atas cita cita yang pernah kita buat bersama, terima kasih sudah ada saat itu, 28 januari 2012, ya empat tahun lalu saat dimana kamu memberiku hadiah yang kau pasangkan di leherku. Aku rasa sudah cukup rasanya aku diam ditempat. Sekarang aku akan memulai hidupku lagi, dan tidak ada kamu didalamnya.
Untuk semua yang membuat hari ini terasa menyenangkan
Terima kasih ya, kelak Allah ya akan membalas kebaikan kalian semua