Beberapa hari lalu saya berusaha meninggalkan embel-embel sebagai silent majority. Berusaha untuk meluruskan hal-hal yang mungkin bagi beberapa mayoritas terlihat sebagai anomali (clearly karena cara pandang saya yang gerbeda). Padahal manusia diberkahi akal, bukan cuma otak ya, untuk apa? Ya kalian sendiri pasti paham.
Saya sedih, jujur. Bumi pertiwi yang enam tahun lalu saya tinggalkan menjadi lebih….. berbeda (dalam denotasi negatif). Dan saya mungkin termasuk orang yang beruntung, tidak merasakan langsung dampak perbedaan yang terjadi. Narasi-narasi politik yang kian hari dicampur dengan isu agama yang sudah jelas tidak benar keaslian seolah jadi santapan sehari-hari. Inikah makanan yang dikonsumsi masyarakat Indonesia saat ini?
Sebagai mayoritas yang kini merasakan jadi minoritas saya paham betul rasanya. Enam tahun tinggal di barat, belahan bumi yang selalu disalahkan karena budaya nya yg tidak sesuai dengan leluhur kita, saya berusaha dengan sebaik-baiknya jadi agen muslim yang baik, yang mempresentasikan agama saya dengan baik, yang berusaha menjawab pertanyaan yang mereka berusaha ingin paham, sehingganya tidak ada lagi skeptimisme atas agama saya, yang makin hari terlihat semakin banyak oknum yang memperekeruh nama islam itu sendiri.
Saya akui, oknum seperti itu memang ada. Tapi saya memohon, jangan salahkan agama saya, karena sesungguhnya Allah dan Rasulullah senantiasa mengajarkan hal-hal kebaikan. Masih ada mayoritas seperti saya yang masih peduli dan tidak kehilangan harapan akan tumbuhnya toleransi umat beragama. Kalau hal ini sudah tidak ada, saya rasa slogan Bhineka Tunggal Ika yang digaung-gaukan hanya menjadi omong kosong.
Pertanyaan saya, buat mayoritas lain yang level keagamaannya ‘terlihat’ lebih tinggi dari saya, sasaran dakwah kalian siapa? kalau kalian hanya peduli sesama level kalian saja, yah saya mencoba paham. Memang beda fokus.
Tapi saya pribadi, saya berusaha menjadi agen muslim yang baik, yang saat orang lain yang tidak paham akan agama saya, menjadi paham dan mencoba berpikir ulang betapa sempurna nya agama yang sekarang saya peluk.
Karena mantra ‘maaf hanya sekadar mengingatkan’ bagi saya terlalu basa-basi, show them, don’t tell.
Tapi cara memperlihatkan nya juga disesuaikan. Jangan lagi kuliah di ruang kampus malah baca al-qur’an (true story). Ya jelas dimarahin dosen. Habis itu jangan teriak-teriak islamophobia ya! bikin gemas saja.

0 Comentarios