Assalamualaikum,
heyya, despite of the title, I decided to write this post in Bahasa. Kayak, biar berasa aja gitu senengnya, bersyukurnya, biar lebih nyampe aja ke yang baca (lol, si ada).
Alhamdulillah, akhirnya kesampean banget bisa nulis tentang ini. Inget banget, ditanya sama Alif, "Cit tahun baruan kemana?" trus gue jawab,"ada deh, the place I've been longing to visit". Yeah, dan di dua kota ini gue menghabiskan akhir tahun gue: Makkah Al-Mukarramah and Madinah Al-Munawarrah.
Niat Untuk Ber Umrah
Perjalanan ke tanah suci ini bisa dibilang dadakan, eh nggak juga sih sebenernya. Jadi, niat mau ber umrah sudah ada dari 2018. Dulu rasanya kayak, ya pengen aja. Setelah cari-cari info, bertemu lah satu rombongan Indonesia dari Berlin (dari mana-mana juga sih) yang sebenernya beberapa pun gue sudah kenal. Qadarullah saat itu visa gue nggak mencukupi syarat, dan gue memutuskan batal ikut (dan niatnya dulu belum sebesar itu).
Setahun setelahnya, 2019, gue bisa dibilang financially capable untuk berangkat, tapi tahun tersebut gue lagi kemana-mana banget, tapi satu hal yang gue sadar, semuanya duniawi. Gitu ya, saat lo terlihat "mampu" tapi jadinya terlena, dan pikiran mau kesana tuh hilang menguap begitu saja. Bahkan kayaknya tahun tersebut adalah tahun dimana gue keluar negeri terbanyak selama hidup, kebetulan nyokap, bokap dan kakak gue dateng, alhamdulillah. Allah kasih rejeki untuk menyambut mereka disini, waktu itu moment nya adalah gue graduation. Disusul dengan proyek kampus di Kairo, dan akhir tahun gue pulang ke Indonesia. So, tahun tersebut penuh dengan banyaknya acara duniawi ya, semoga tetep ada berkah diwaktu-waktu yang sudah terlewat itu.
Tahun 2020, inget banget gue sudah mendaftar umrah edisi budget buat student-student di Aachen. Gue dan dua orang lainnya, Widi dan Nada, sudah berniat mau umrah yang berangkat Februari 2021. Kami udah DP, dan qadarullah pandemi datang. Jadi rencana umrah ini akhirnya dibatalkan. Gue lumayan ikhlas, tapi lumayan down dikit, kayak, mau banget diundang gitu. Baru disini niat berumrah gue tingkatin banget.
Karena masih pandemi, gue berpikir kayaknya umrah nggak akan diadakan sampai agak reda angka infeksi nya. Bahkan di awal-awal pandemi, Makkah ditutup dan nggak ada jamaah sama sekali. Dan gue pun nggak mau memaksakan. Waktu itu sekitar bulan Oktober 2021, gue lihat pamflet umrah dari grup WhatsApp yang di forward mbak Rina (semoga Allah jaga beliau), dan mulai berpikir buat coba daftar. Gue menghubungi contact personnya bulan November.
Ada banyak keraguan saat itu, masalah pandemi, hukum berangkat tanpa mahram bagaimana, yang banyak bikin gue mikir "Gue ibadah kok kayaknya maksa banget ya?" kondisi nya nggak memungkinkan dan gue pernah mendengar cerita bahwa ada laki-laki yang berangkat umrah dengan rombongan dan dia nggak diberitahu bahwa namanya dipake sebagai nama mahram orang lain, dan dia ga ridha, akhirnya gue berpikir untuk berangkat nanti aja saat sudah bisa berangkat bareng nyokap atau adek laki-laki gue atau ntar aja sama pasangan, pokoknya sama sebener-benernya mahram deh. Keresahan ini gue ceritakan ke nyokap, dia bilang kalo ada uang nya yaudah berangkat aja, yang sebenernya pun ga ada-ada amat tapi alhamdulillah ya cukup, dan yang gue yakinin bahwa Allah yang memilih dan menyanggupi siapa yang Dia undang.
Lalu gue telfonan dengan contact person nya, dan ternyata ini adalah perkumpulan muslim di salah satu Masjid di Frankfurt. Ustadz nya mengajar tiga kelas: Fiqh Ibadah; Aqidah; dan Sirah. Yang ikut umrah ini adalah murid-muridnya di kelas tersebut. Ustadz nya orang Indonesia, tapi lahir di Jerman dan ga bisa bahasa Indonesia. Kalo mau ditambah-tambahin, keraguan gue berikutnya adalah gue gak kenal orang-orangnya, terus mungkin ada kendala bahasa. Cuma gue yakin saat itu, ini dua alasan yang gue buat-buat aja. Dan ditambah-tambah bisikan syaitan pastinya, 'audzubillah.
Contact person nya ini lalu menyarankan gue untuk gabung di grup telegram. Dan gue baca-baca semua conversation nya dan ada ragu lagi disitu. Sempat gue leave group karena merasa "kayaknya ga sekarang deh" dan sempet di tanya jadi ikut atau nggak. Karena saat itu semuanya sebenernya belom pasti, apakah dapet visa, apakah berangkat karena kebetulan Omicron lagi bermunculan.
Dan suatu hari gue berpikir, iya kalo Allah masih kasih gue umur. Mau nungguin orang lain atau waktu udah punya pasangan, siapa yang tau besok gimana? Kalo ada kesempatan tapi banyak ragunya gini kayaknya bukan sikap ke hati-hatian lagi, tapi udah bener godaan syaitan kali ya. Setelah cerita sama teman-teman juga, nanya Ustadzah, terus nonton YouTube tentang umrah, dan minta ke ridha-an Widi juga waktu itu (karena kami niat umrah bareng), gue akhirnya berpikir "ya udah kalo visa nya jadi berati Allah undang". Dan dengan bismillah, gue bulatkan tekad buat daftar sambil terus minta Allah lancarkan prosesnya dan Allah undang kami semua kesana.
Proses Pendaftaran
Umrah pandemi begini memang syaratnya nambah, tapi bener-bener nggak ribet. Begini prosedur pendaftaran yang gue lakukan.
1. Daftar di Website Agen
Kebetulan gue berangkat dengan Balcok, sebuah travel agen umrah dan haji yang sudah sering gue denger. Tapi nggak langsung daftar di websitenya , melainkan lewat link khusus yang dikasih Ustadz, karena kebetulan kami dapet paket yang berbeda dengan yang ada di website, dan ini juga memudahkan untuk penentuan rombongan.
2. Pembayaran
Pembayaran dilakukan sebanyak dua kali, pertama adalah down payment dan yang kedua adalah pelunasan. Sewaktu transfer, mereka akan otomatis kirim email untuk konfirmasi dan memberi tahu step selanjutnya, yaitu persiapan dokumen.
3. Vaksin Meningitis
Karena belom punya Hausarzt gue lumayan lama cari ini vaksin, karena banyak praxis yang ga buka buat vaksin lain karena terlalu überfördert dengan vaksin corona. Akhirnya, gue menemukan vaksin yang nggak perlu antri dan buat janji, yaitu di Zentrum für Reisemedizin, kebetulan ada di beberapa kota salah satunya Dresden. Ini beberapa catatan tentang vaksin meningitis:
- bertanya ke agen perjalanan apa saja nama-nama vaksin yang diterima. Mereka biasanya punya list nya yang tentu punya plus minusnya sendiri
- pilih vaksin yang hanya diperlukan satu dosis. sehingga ga perlu sampe dua kali dulu baru lengkap dosisnya. Gue pake Nimenrix, harganya sekitar 79€, dan bisa direimburse ke TK, gampang banget kalo pake TK App, tinggal upload Rechnung jadi deh. alhamdulillah. (Buat keuntungan pake TK App akan gue bikin postingan sendiri ya)
- Nimenrix berlaku sepuluh tahun, ada juga yang hanya lima. Jadi, bisa dipertimbangkan memilih vaksi yang mana dari segi harga, masa berlaku nya, dan dosisnya. Gue pribadi pasti memilih yang lama masa berlakunya, sehingga insyaallah sampai bisa mengcover haji sekalian nantinya, aamiin ya Rabb.
- Passport
- Aufenthaltskarte dan Zusatzblatt
- Impfpass Asli
- Printout Impfass Digital per Dose
- Foto (nggak wajib, karena mereka akan mengambil foto yang ada di Passport)
- Bestätigung pelunasan pembayaran

0 Comentarios