Percakapan Telefon

Dua makhluk tanggung berusaha berbagi keresahan. Jarak pun tak menghalangi mereka untuk sama-sama mengerti. Lewat sambungan telefon, dia utarakan keresahan yang mengganggu sudah hampir sebulan ini, Dia, sang pemeran utama bukan lah anak yang tertutup, Dia mampu untuk mengatasi masalahnya sendiri. Jika dia sudah mau berbagi, pastilah masalah tersebut sangat rumit.

"Jadi menurutmu bagaimana?" Itu suara si pendengar, teman akrabnya pemeran utama yang sudah bertahun-tahun, sudah pasti paham watak baik dan buruk sang pemeran utama.

"Tidak paham, aku ingin terus diam tapi.. rasanya salah. Aku tidak betah. Tetapi mau bertanya pun tidak punya keberanian. Kau tahu kan nyali ku tidak sebesar itu kalau menyangkut orang yang.. katakanlah aku kagumi"

"Ada baiknya bertanya" jeda lama, karena baik sang pendengar dan sang pemeran utama tak paham mau berkata apa. Terdengar hembusan nafas sang pendengar diujung sana, seakan ingin melanjutkan pembicaraan. " Kau tahu tidak, aku adalah sahabat yang bahagia sekali hari ini "

"Yah bagus sekali, aku bimbang seperti ini dan kau malah bahagia"

Sang pendengar tertawa. Tidak sanggup menutupi rasa bahagiannya. "Aku bahagia, karena ternyata sahabatku sudah mau berbagi cerita, sudah tidak merasa apa apa harus dikerjakan sendiri. Kamu tahu tidak? kami kagum sesungguhnya akan kemampuan mu mandiri, kemampuanmu menyelesaikan apa-apa sendiri, tapi kamu harus tau, kami bisa membantu, kami bisa membantu meringankan bebanmu, jangan merasa sendiri lagi. beri kami sedikit kepercayaan. Aku juga sangat senang karena sekian lama rasanya tidak melihatmu seperti ini"

"Seperti ini bagaimana?" sang pemeran utama tak sabar memotong

"Ya begini, bicara banyak tentang cinta, kembali salah tingkah, mulai menggunakan bahasa yang panjang kalau aku kirim pesan, selalu tersenyum bahagia. Dan aku akan sangat beruntung jika aku tahu kau dan dia bisa bersama"

Terdengar suara hembusan nafas sang pemeran utama, bagaikan tak setuju dengan kalimat barusan. "Bisa bersama bagaimana? kamu tahu posisi ku sekarang seperti apa. Dia dibanding aku itu tidak ada apa apa nya, ralat, aku yang tidak ada apa apa nya. Semua setuju kalau dia lelaki baik, sedangkan aku? aku rasa orang-orang berharap aku enyah saja. Lagipula aku tidak cantik. Mana mungkin dia bisa punya perasaan?"

Sialnya, sang pendengar malah kembali tertawa. "kalau begitu, buat dirimu menjadi lebih baik, jadi kau lebih pantas jika bersama dia kelak."

ya, memang semua yang sang pendengar katakan benar.

"Terima kasih banyak ya, maaf kalau aku akan sering bercerita kedepannya"

"Tidak masalah sama sekali, sudah ku katakan justru aku senang"


Aachen, 26.05.2016
14:12

0 Comentarios