Heyya,
apa kabar? semoga selalu sehat dan tidak pernah lupa bersyukur. Citra kabarnya baik, ga ada yang nanya ya? hahaha. Dalam beberapa hari masa terpuruk gue kemarin, mungkin bahkan saat itu adalah masa terlama gue ga keluar rumah; sekitar sepuluh hari, dua hari terakhir ini gue memutuskan untuk pull myself together. Kembali jadi Citra yang sibuk dan produktif, biar pikiran bisa jadi netral dan less depressed. Iya gue mengakui, gue lagi di fase depresi.
Kenapa gue berani speak up?
Gue ke triggered sama video yang Andovi buat. Dia berani mengakui ke subsribers dia, tanpa dia takut di judge ini itu. Yang sangat menarik adalah pernyataan dia "Why am I depressed? I have nothing to complain, my life isn't hard. I can eat, I don't experience hunger and poverty, so why am I being like this?"
Exactly.
Depresi ga melulu pemicunya dari faktor luar. yeah in my case the issues are big dan semua datang bersamaan, seperti domino effect yang bikin masalah-masalah lain tambah muncul. Gue sadar gue dalam fase ini sudah cukup lama, but it always comes and goes. For past ten days, gue bangun tidur selalu sesak dan berkeringat, kayak... capek. Gue yah sudah ga pernah tidur nyenyak entah dari kapan. Gue suka mengurung diri, gelap, dan cuma nyalain lilin doang. Gue bahkan ga keberatan kalau gue hari itu ga makan, seolah gue udah gabisa rasain lapar lagi. Gue ga bisa konsentrasi, gelas pecah, apa-apa jatuh, gue melukai diri sendiri. 'Lo kenapa, Citra?'
Turning point yang bikin gue sadar mungkin setelah gue pulang dari Indo yang kedua, ketika gue melihat sendiri sumber masalah yang sekarang gue alami. Itu berdampak ke segala hal; eksistensi diri, cara gue bersikap, sampe pikiran gue yang selalu bilang "Kalau gue mati apa semua nya selesai?"
Dulu temen gue pernah cerita how she overcame depression, gladly gue juga salah satu orang yang menemani dia saat dia lagi di fase pemulihan. Semua orang yang gue baca ceritanya sedang depresi selalu melulu bilang 'jangan sendiri. seek for help'
tapi kenapa gue sangat enggan?
Gue pernah bercerita sama salah satu teman, sialnya ini jadi membuat semuanya rumit. Dia mau gak mau jadi involved di masalah gue yang seharusnya dia gak perlu tahu beban ini. Karena apa ya? gue sangat sadar gue butuh sandaran, dan saat itu gue pikir dia bisa gue jadikan satu. Turns out itu sedikit bikin gue kacau. Gue selalu merasa harus lari ke dia. Salah. Citra itu salah. Hal ini selalu berujung kekecewaan, karena harapan gue gantungin ke manusia. Yang bisa menyelamatkan gue ya cuma diri gue sendiri.
Gue hanya berdoa lama sekali setiap hari sama Allah supaya beban ini diangkat. Ketika gue udah ga punya kuasa lagi untuk memperbaiki hal yang gue gatau mau mulai dari mana because it's already broken enough. Gue sangat percaya bahwa Tuhan itu maha kuasa dan maha membolak-balikan hati manusia. Gue mungkin kemarin sedih, kacau, tapi sekarang? Alhamdulillah.
Gue berdamai, gue coba ke akar masalah nya satu-satu. Meng-encourage diri gue untuk 'menyentuh' luka yang mungkin semua orang mikir 'kalau masih luka ya jangan, karena sembuhnya susah'. Gue ga masalah, gue mau ini cepat sembuh dan gue mau jadi orang yang lebih hidup dari ini.
How can I overcome my depression?
Gue nulis apapun yang gue mau tulis di jurnal; tentang kesedihan, tentang kenangan masa lalu, tentang cinta yang kembali gue temukan, tentang arti bersyukur kepada Tuhan, tentang rasa yang gue bisa rasakan selagi gue masih hidup, apapun yang bikin gue lega karena semuanya bisa gue keluarkan. Gue tulis surat untuk semua orang yang pernah terlibat dan berkaitan dalam masalah-masalah ini, gue addresse specifically nama mereka satu-satu, seolah-olah itu memang buat dikirim ke mereka. Gue udah gak bisa nangis, lucu ya? Gue merasa air mata udah ada di pelupuk, dada gue udah sesak dan penuh, tapi gue ga bisa nangis? ini memang aneh banget sih. Padahal gue cukup cengeng. Gue masih butuh menangis, karena gue yakin habis itu, beban gue jadi sedikit reda.
Gue mulai hal-hal kecil yang kasih dampak positif ke mindset gue. Mulai dari lebih sering bilang terima kasih, kasih apresiasi terhadap apapun, terus gue tiap malam kontemplasi dan menulis apa aja yang bikin gue bersyukur hari itu, semuanya gue lakukan supaya gue lebih menghargai diri gue sendiri.
Gue lihat ke kaca tiap hari dan bertanya kabar diri sendiri. Hahaha miserable sekali ya? biarin aja. Gue rasa ini cara gue lebih apresiasi diri, dengan concern sama state of mind gue.
Gue juga mendengar banyak lagu, mencari banyak tulisan motivasi, membaca Al-quran lebih sering dan menonton video kartun anak-anak. Semua nya random sekali ya? hahaha tapi percaya deh itu semua hiburan buat gue untuk tetap merasa hidup dan melewati proses ini.
Sekarang gue sudah lebih baik, lebih baik dari dua minggu lalu saat gue mulai mengurung diri. Setidaknya ada hopes yang grow inside me and my heart to escape from this situation. Dan gue masih berusaha sampai sekarang.
For everything God gives me in my life, I won't take it for granted.
Thanks for guiding me, my Lord.
Aachen, 12.01.2018
apa kabar? semoga selalu sehat dan tidak pernah lupa bersyukur. Citra kabarnya baik, ga ada yang nanya ya? hahaha. Dalam beberapa hari masa terpuruk gue kemarin, mungkin bahkan saat itu adalah masa terlama gue ga keluar rumah; sekitar sepuluh hari, dua hari terakhir ini gue memutuskan untuk pull myself together. Kembali jadi Citra yang sibuk dan produktif, biar pikiran bisa jadi netral dan less depressed. Iya gue mengakui, gue lagi di fase depresi.
Kenapa gue berani speak up?
Gue ke triggered sama video yang Andovi buat. Dia berani mengakui ke subsribers dia, tanpa dia takut di judge ini itu. Yang sangat menarik adalah pernyataan dia "Why am I depressed? I have nothing to complain, my life isn't hard. I can eat, I don't experience hunger and poverty, so why am I being like this?"
Exactly.
Depresi ga melulu pemicunya dari faktor luar. yeah in my case the issues are big dan semua datang bersamaan, seperti domino effect yang bikin masalah-masalah lain tambah muncul. Gue sadar gue dalam fase ini sudah cukup lama, but it always comes and goes. For past ten days, gue bangun tidur selalu sesak dan berkeringat, kayak... capek. Gue yah sudah ga pernah tidur nyenyak entah dari kapan. Gue suka mengurung diri, gelap, dan cuma nyalain lilin doang. Gue bahkan ga keberatan kalau gue hari itu ga makan, seolah gue udah gabisa rasain lapar lagi. Gue ga bisa konsentrasi, gelas pecah, apa-apa jatuh, gue melukai diri sendiri. 'Lo kenapa, Citra?'
Turning point yang bikin gue sadar mungkin setelah gue pulang dari Indo yang kedua, ketika gue melihat sendiri sumber masalah yang sekarang gue alami. Itu berdampak ke segala hal; eksistensi diri, cara gue bersikap, sampe pikiran gue yang selalu bilang "Kalau gue mati apa semua nya selesai?"
Dulu temen gue pernah cerita how she overcame depression, gladly gue juga salah satu orang yang menemani dia saat dia lagi di fase pemulihan. Semua orang yang gue baca ceritanya sedang depresi selalu melulu bilang 'jangan sendiri. seek for help'
tapi kenapa gue sangat enggan?
Gue pernah bercerita sama salah satu teman, sialnya ini jadi membuat semuanya rumit. Dia mau gak mau jadi involved di masalah gue yang seharusnya dia gak perlu tahu beban ini. Karena apa ya? gue sangat sadar gue butuh sandaran, dan saat itu gue pikir dia bisa gue jadikan satu. Turns out itu sedikit bikin gue kacau. Gue selalu merasa harus lari ke dia. Salah. Citra itu salah. Hal ini selalu berujung kekecewaan, karena harapan gue gantungin ke manusia. Yang bisa menyelamatkan gue ya cuma diri gue sendiri.
Gue hanya berdoa lama sekali setiap hari sama Allah supaya beban ini diangkat. Ketika gue udah ga punya kuasa lagi untuk memperbaiki hal yang gue gatau mau mulai dari mana because it's already broken enough. Gue sangat percaya bahwa Tuhan itu maha kuasa dan maha membolak-balikan hati manusia. Gue mungkin kemarin sedih, kacau, tapi sekarang? Alhamdulillah.
Gue berdamai, gue coba ke akar masalah nya satu-satu. Meng-encourage diri gue untuk 'menyentuh' luka yang mungkin semua orang mikir 'kalau masih luka ya jangan, karena sembuhnya susah'. Gue ga masalah, gue mau ini cepat sembuh dan gue mau jadi orang yang lebih hidup dari ini.
How can I overcome my depression?
Gue nulis apapun yang gue mau tulis di jurnal; tentang kesedihan, tentang kenangan masa lalu, tentang cinta yang kembali gue temukan, tentang arti bersyukur kepada Tuhan, tentang rasa yang gue bisa rasakan selagi gue masih hidup, apapun yang bikin gue lega karena semuanya bisa gue keluarkan. Gue tulis surat untuk semua orang yang pernah terlibat dan berkaitan dalam masalah-masalah ini, gue addresse specifically nama mereka satu-satu, seolah-olah itu memang buat dikirim ke mereka. Gue udah gak bisa nangis, lucu ya? Gue merasa air mata udah ada di pelupuk, dada gue udah sesak dan penuh, tapi gue ga bisa nangis? ini memang aneh banget sih. Padahal gue cukup cengeng. Gue masih butuh menangis, karena gue yakin habis itu, beban gue jadi sedikit reda.
Gue mulai hal-hal kecil yang kasih dampak positif ke mindset gue. Mulai dari lebih sering bilang terima kasih, kasih apresiasi terhadap apapun, terus gue tiap malam kontemplasi dan menulis apa aja yang bikin gue bersyukur hari itu, semuanya gue lakukan supaya gue lebih menghargai diri gue sendiri.
Gue lihat ke kaca tiap hari dan bertanya kabar diri sendiri. Hahaha miserable sekali ya? biarin aja. Gue rasa ini cara gue lebih apresiasi diri, dengan concern sama state of mind gue.
Gue juga mendengar banyak lagu, mencari banyak tulisan motivasi, membaca Al-quran lebih sering dan menonton video kartun anak-anak. Semua nya random sekali ya? hahaha tapi percaya deh itu semua hiburan buat gue untuk tetap merasa hidup dan melewati proses ini.
Sekarang gue sudah lebih baik, lebih baik dari dua minggu lalu saat gue mulai mengurung diri. Setidaknya ada hopes yang grow inside me and my heart to escape from this situation. Dan gue masih berusaha sampai sekarang.
For everything God gives me in my life, I won't take it for granted.
Thanks for guiding me, my Lord.
Aachen, 12.01.2018

0 Comentarios