Ini (bukan) Cemburu

Hari ini aku berjanji menemuinya, hal rutin yang kami lakukan jika sama sama tidak sibuk; memasak bersama. Kedengarannya romantis? Oh percayalah hal seperi ini kami lakukan untuk berhemat. 

Bagianku selalu menyiapkan bahan makanan, sedangkan dia yang memasukan ke wajan. Kerja sama yang cukup adil menurutku.

"Kamu seperti nya terlihat senang"
Tanyaku sambil lalu, hanya sekedar berbasa basi. Padahal mulutku sudah gatal untuk bertanya hal yang ebberapa ini amat menggangguku. 

"Memang begitu? " dia masih sibuk mencari wajan untuk menggoreng. Huh sok sibuk sekali? Ah aku tanyakan sekarang saja. "Menurutku iya. Bagaimana kabar dia? Kulihat kemarin kau pergi bersamanya" 

Dia menghentikan kegiatannya sejenak lalu menjawab pertanyaanku "bukannya dia temanmu? Mungkin kamu yang lebih tau kabar dia seperti apa. Dan ya kemarin aku bertemu dia di halte bus, bukan sengaja bertemu"

Perbincangan ini tiba tiba menjadi sedikit menegangkan. Entah mengapa aku tidak percaya ucapannya. "Kalau kamu pergi dengan dia pun bagiku tak masalah" 

Dia sekarang benar benar diam, mematikan kompor untuk masakan yang belum matang. "Kemana arah pembicaraan kita ini? " 

Aku menghela nafas. Ikut ikutan meletakan pisau dan menatapnya "aku hanya bertanya"

Dengan Tersenyum sinis dia menjawab "Kamu seperti menginterogasi"

"Kenapa? Kamu merasa tak nyaman aku tanya begitu?" Aku pancing saja dia, lihat dia mau jawab apa

"Kamu cemburu?" Bukannya menjawab dia malah bertanya seperti itu 

"Jawab pertanyaanku tadi" ujarku dengan tegas. Enak saja aku yang bertanya tapi bukan dia yang menjawab malah balik bertanya.

"Kamu yang jawab, lalu setelahnya aku yang menentukan sikap atas jawabanmu itu"

Lima detik berlalu tidak ada dari kami yang membuka suara. Karena tak tahan aku ucapkan saja apa yang aku pikirkan. "Cemburu itu kan artinya saat orang yang biasa memperhatikanmu, justru memperhatikan orang lain, dalam hal ini aku tidak merasa mendapat perhatian. dan yang paling penting cemburu itu adalah rasa takut akan kehilangan, sedangkan aku tidak merasa punya apa apa" 

Kulihat dia yang kini masih diam, sibuk mengkin mecerna kata kata ku. Rasanya semenit berlalu tapi dia belum juga menentukan sikap atas jawabanku. 

Dasar laki laki. Janjinya menentukan sikap tapi apakah selama ini?


0 Comentarios