Man Upon The Hill

Gue selalu korelasiin lagu dengan situasi yang waktu gue lakuin saat gue denger lagunya. Semacam ada film dan scene-scene yang muter dikepala gue. Lengkap dengan aktor-aktrisnya. Gue kalo lagi suka lagu, bisa muter itu ratusan kali sehari. Ada yang gini juga?

Ada lagu yang selalu narik gue untuk flashback. Awalnya lagu ini yang nemenin gue di pesawat berjam-jam, ralat bahkan di kereta juga. Aachen-Amsterdam-Jakarta. Jakarta-Pekalongan. Pekalongan-Jakarta. Jakarta-Amsterdam-Aachen. Lalu kedua kalinya di bulan yang hampir berdekatan, Aachen-Frankfurt-Riyadh-Jakarta. Jakarta-Yogyakarta. Yogyakarta-Jakarta. Jakarta-Riyadh-Frankfurt-Aachen. Lagu yang sama gue puter sampe gue ketiduran. Ga ada korelasi liriknya, hanya lagu ini jadi theme song gue pulang.

Dan pas bagian ini, selalu narik gue flashback akan entah apa kejadian yang lg clingy di otak.
"And we danced in the room  
Grew our heart a bloom 
I stopped right there 
You've found a new home 
And I should be happy…"

Gue flashback dimana gue bertemu dia lagi.



Pelukan pertama yang gue dapet dari dia. Kelakuan bocahnya yang salting ketemu gue lagi. Duduk ngemper di pojokan XXI. Celana salmon nya yang norak banget waktu kita ke Zoo. Muka antusiasnya jelasin tentang ikan ke gue satu-satu. Wajah capeknya waktu gue ajak jalan muter-muter karena doi habis futsal. McFlurry gue yang oreo dan dia yang pake chacha. Muka capek tapi tetep nurut gue pas nyari angkringan malem-malem. Tatapan matanya saat pertama kalinya kita open up the secret yang buat kita sangat vulnerable. Ekspresi nya dia waktu kasih Flounder. Muka mengeryit kepahitan pas gue suapin es krim rasa dark chocholate. Manja-manja nya dia di GoCar waktu anter ke bandara. Sampe pelukan terakhir yang gue dapet saat he waved me good bye. I wish I hold him longer. 

Terus sekarang mengingat ini semua untuk apa Citra?

Untuk sadar, sesalah-salahnya dia, gue juga punya andil besar membuat semuanya jadi seperti ini. Untuk mengingat, setidaknya selama tiga hari bertemu dia, gue bahagia. Indeed, he brought joy to me. I must admit. Setidaknya kalaupun we can't give each other love, let's not spread hatred. Karena gue sangat sadar, bahwa gue senang bersama dia. Dan mungkin dia merasa hal yang sama.

Gue memaknai liriknya sekali lagi. Bukan flashback yang sama saat gue ingat hal yang manis. Ada korelasi nyata waktu gue denger lirik itu sekali lagi. Ingatan gue balik saat telfonan terakhir kita, betapa gue harus atur emosi saat dia bisa sebut nama yang lain saat gue masih on call. Dan gue harus sangat jaga hati gue, karena gue ga punya hak marah sama sekali. Saat dia menyudahi telfon, gue kosong. gue cuma diam dan berusaha positif thinking. Berkali-kali atur perasaan supaya ga kebablasan.

Sampai ternyata gue bisa demanding dan meledak juga. Itu dini hari, jam setengah tiga pagi dan gue baru aja tidur jam setengah dua after 4 hours flight to Marrakech. Gue bingung, mau marah ga punya hak, got a DM and I saw him tell the world that he missed his ex. Pagi itu gue ga pernah bisa tidur lagi. Untuk gue yang punya sleeping disorder, tidur sangat berharga. Gue baru tidur satu jam, and woke up to the news I didn't expected before. Gue akuin gue childish dan berlebihan. Tapi hati dan raga gue yang amat sangat lelah waktu itu membuat logika gue ga berjalan semestinya. Gue lelah sakit hati.

But, it's my own decision, the best for us both. 
seperti yang gue lihat, dia tidak akan merasa kekurangan cinta sama sekali hanya karena gue pergi. dia bisa dapetin itu kapanpun dan dari siapapun. gue yang harus heal my broken heart. I feel it again, and again. Kenapa saat gue mau mulai percaya, gue harus sakit lagi? Gue lelah. 

"I should be happy…" 

Indeed, I should be happy.

untuk semua memori manis yang pernah kamu berikan, aku berterima kasih ya. 
kamu bisa dapetin siapapun yang kamu mau, aku yakin, 




Aachen 28.11.2018



1 Comentarios

  1. nasib yg mirip ma tmn gua yg 1 lg, posisi sama, dgn siapanya jg sama lokasi jg di jogja, cara perpisahan sama, beda cm dia laki & stasiun. Memaafkan mungkin yg terbaik.

    ReplyDelete