Citra Puspita Maharani
  • Home
  • Portfolio



Mata.

Itu jawabannya jika ditanya 'apa alasanmu mengaguminya?' entah aku pun bimbang, mengapa begitu mudah bagiku untuk bisa kagum kepada seseorang, bukan, kukira ini bukan kagum untuk menjurus ke arah sana, kau paham maksudku, tapi ini kagum akan seseorang karena wibawanya tau karena kepribadian nya. Tapi kali ini pilihanku jatuh pada anggota tubuh, ya aku mengagumi sepasang mata yang beberapa minggu ini mencuri pandang ke arah ku entah disengaja atau tidak, kami sering melemparkan pandangan satu sama lain, dan jika pandangan kami bertemu, kami sama sama berpaling.

Sepasang mata itu yang sedari tadi kuperhatikan, berharap dia melihatku hari ini, tapi mungkin dia belun tersadar juga. Sampai ada waktunya ku beranikan untuk mengajaknya bicara, bukan berdua saja mana mungkin aku seberani itu. Saat kami bicara, matanya menatapku, mencari sesuatu yang tidak ku tahu apa tapi bisa kurasakan itu. Matanya seakan menghipnotisku untuk berlama lama, menikmati dua bola coklat itu, begitu mengagumkan ya ciptaanmu ini tuhan.

"Mau pulang sekarang?" tanyaku hanya sekedar saja,syukur kalo dia membalas.

"Iya, kamu juga kan? Ayo, rumah kita searah bukan"

Memang berlebihan, diajak bicara begini saja aku sudah kegirangan.
Ah, semoga selalu ada hari lain bersamanya, tidak cuma hari ini.

Hari ini aku berjanji menemuinya, hal rutin yang kami lakukan jika sama sama tidak sibuk; memasak bersama. Kedengarannya romantis? Oh percayalah hal seperi ini kami lakukan untuk berhemat. 

Bagianku selalu menyiapkan bahan makanan, sedangkan dia yang memasukan ke wajan. Kerja sama yang cukup adil menurutku.

"Kamu seperti nya terlihat senang"
Tanyaku sambil lalu, hanya sekedar berbasa basi. Padahal mulutku sudah gatal untuk bertanya hal yang ebberapa ini amat menggangguku. 

"Memang begitu? " dia masih sibuk mencari wajan untuk menggoreng. Huh sok sibuk sekali? Ah aku tanyakan sekarang saja. "Menurutku iya. Bagaimana kabar dia? Kulihat kemarin kau pergi bersamanya" 

Dia menghentikan kegiatannya sejenak lalu menjawab pertanyaanku "bukannya dia temanmu? Mungkin kamu yang lebih tau kabar dia seperti apa. Dan ya kemarin aku bertemu dia di halte bus, bukan sengaja bertemu"

Perbincangan ini tiba tiba menjadi sedikit menegangkan. Entah mengapa aku tidak percaya ucapannya. "Kalau kamu pergi dengan dia pun bagiku tak masalah" 

Dia sekarang benar benar diam, mematikan kompor untuk masakan yang belum matang. "Kemana arah pembicaraan kita ini? " 

Aku menghela nafas. Ikut ikutan meletakan pisau dan menatapnya "aku hanya bertanya"

Dengan Tersenyum sinis dia menjawab "Kamu seperti menginterogasi"

"Kenapa? Kamu merasa tak nyaman aku tanya begitu?" Aku pancing saja dia, lihat dia mau jawab apa

"Kamu cemburu?" Bukannya menjawab dia malah bertanya seperti itu 

"Jawab pertanyaanku tadi" ujarku dengan tegas. Enak saja aku yang bertanya tapi bukan dia yang menjawab malah balik bertanya.

"Kamu yang jawab, lalu setelahnya aku yang menentukan sikap atas jawabanmu itu"

Lima detik berlalu tidak ada dari kami yang membuka suara. Karena tak tahan aku ucapkan saja apa yang aku pikirkan. "Cemburu itu kan artinya saat orang yang biasa memperhatikanmu, justru memperhatikan orang lain, dalam hal ini aku tidak merasa mendapat perhatian. dan yang paling penting cemburu itu adalah rasa takut akan kehilangan, sedangkan aku tidak merasa punya apa apa" 

Kulihat dia yang kini masih diam, sibuk mengkin mecerna kata kata ku. Rasanya semenit berlalu tapi dia belum juga menentukan sikap atas jawabanku. 

Dasar laki laki. Janjinya menentukan sikap tapi apakah selama ini?




"Kamu gapapa kalau aku gak kesana?" 

Ini hari jumat. Selalu ada kunjungan wajib setiap hari jumat ketempatku. Maklum jarak kami cukup jauh, butuh setidaknya mengosongkan jumat-sabtu-minggu untuk bisa bertemu. 

"Gak masalah, kamu kan sakit. Aku justru khawatir kalo malah kamu maksa nanti kenapa-kenapa dijalan" aku membalas pertanyaannya via telefon. 

"Ya sudah jangan lupa minum obat, sekarang istirahat yang cukup. Maafkan aku belum bisa menjenguk, masih ada ujian"

Justru karena persiapan ujian ini aku butuh dia untuk mengajariku, sekalian ada waktu yang kita habiskan bersama. Ga masalah toh? Yang penting buat aku semangat belajar. Sekarang aku belajar di kamar sahabatku, yang akan pergi sebentar lagi. 

"Gue pergi dulu ya, nanti lo kalo mau balik ke kamar lo jangan lupa bawa kunci kamar gue" 
yah sekarang aku sendiri, sahabatku sudah pergi. Aku mengacungkan jempol, mengiyakan perkataannya tadi. 

"Kamu cepat tidur sana, cepat sembuh ya aku lanjut belajar dulu" sambung ku lagi. Aku masih tersambung via telefon.

"Iya, sekali lagi maaf" 

Aku melanjutkan kegiatan belajarku. Tapi tak lama ketukan pintu kamar sahabatku membuatku menghentikan kegiatan ini. Ah kebiasaaan, pasti dia balik lagi deh buat ambil sesuatu yang ketinggalan. Memang temanku itu orang yang pelupa. 

Aku berjalan ke arah pintu lalu membukannya "apa yang ketingg..."

Aku bungkam. Oh tuhan, manusia ini yang lima menit lalu berbicara denganku via telfon, mungkin sedang terlentang lemah diatas kasur, tiba tiba muncul di depan pintu. Aku bahagia luar biasa. 

"Kamu ngapain kesini? Katanya sakit" tanyaku heran.

"Surprise" ucapnya sembari tersenyum lebar.

Detik berikutnya giliran aku yang tersenyum


Hari Jum'at memang selalu se spesial ini kah? 



Newer Posts Older Posts Home

Search This Blog



You are currently reading some of my thoughts and enjoying my arts. I'm currently doing my master's study in architecture, this page show what I do beside architecture. Feel free to comment and connect to my other platforms.

POPULAR POSTS

  • Percakapan Telefon
  • Aachen Photo Gallery
  • Indonesia Darurat Toleransi
  • Mercusuar (bagian 2)
  • S01EFINALE
  • My Umrah Story: Umrah Saat Pandemi
  • I thank you all :)
  • Losing People You Love (Part 2) - The Death of My Grandmother
  • (no title)
  • Losing People You Love - The Death of my Grandfather

Blog Archive

  • ►  2022 (4)
    • ►  January (4)
  • ►  2021 (2)
    • ►  December (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2020 (2)
    • ►  November (1)
    • ►  August (1)
  • ►  2019 (2)
    • ►  February (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2018 (5)
    • ►  November (2)
    • ►  October (1)
    • ►  July (1)
    • ►  April (1)
  • ►  2017 (5)
    • ►  December (1)
    • ►  August (1)
    • ►  July (1)
    • ►  March (1)
    • ►  February (1)
  • ▼  2016 (13)
    • ►  October (1)
    • ►  September (1)
    • ►  July (2)
    • ►  June (1)
    • ►  May (3)
    • ▼  February (3)
      • Hari ini
      • Ini (bukan) Cemburu
      • Memori Hari Jum'at
    • ►  January (2)
  • ►  2015 (2)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
  • ►  2014 (2)
    • ►  July (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2013 (2)
    • ►  October (1)
    • ►  August (1)

Categories

  • Daily 5
  • Fall 1
  • Feelings 24
  • Food 1
  • Germany 7
  • Pandemic 5
  • Passion 6
  • Photos 5
  • Recipe 3
  • Seasons 2
  • Summer 1
  • Traveling 6
  • True Story 2
  • Umrah Story 2
  • Winter 1
Copyright Maharani Citra. Powered by Blogger.

About Me

My photo
Citra Puspita Maharani
View my complete profile

Popular Posts

  • Percakapan Telefon
  • Aachen Photo Gallery
  • Indonesia Darurat Toleransi

Contact Form

Name

Email *

Message *

Copyright © Citra Puspita Maharani. Designed by OddThemes