Beberapa hari lalu saya berusaha meninggalkan embel-embel sebagai silent majority. Berusaha untuk meluruskan hal-hal yang mungkin bagi beberapa mayoritas terlihat sebagai anomali (clearly karena cara pandang saya yang gerbeda). Padahal manusia diberkahi akal, bukan cuma otak ya, untuk apa? Ya kalian sendiri pasti paham.
Saya sedih, jujur. Bumi pertiwi yang enam tahun lalu saya tinggalkan menjadi lebih….. berbeda (dalam denotasi negatif). Dan saya mungkin termasuk orang yang beruntung, tidak merasakan langsung dampak perbedaan yang terjadi. Narasi-narasi politik yang kian hari dicampur dengan isu agama yang sudah jelas tidak benar keaslian seolah jadi santapan sehari-hari. Inikah makanan yang dikonsumsi masyarakat Indonesia saat ini?
