"Di suatu waktu di dunia yang lain
Mungkinkah kamu dan aku bersatu?"
Kata-kata diatas kedengerannya galau banget
ya? Kasian banget gitu mungkin karena formulanya yang terlalu baku. Versi gue
nya mungkin kayak gini "mungkin ga sih lo suatu hari nanti ga di dunia
ini, entah di dunia yg mana, lo melihat gue dan memilih gue?"
Gimana? Masih miris juga?
Well, memang itu sih denotasi nya, ga ada kata
konotasi sama sekali yang sok puitis, itu kalimat tanya yg sebenarnya, bukan
dengan nada desperate tapi cuma penasaran, pengen tahu. Kayaknya ini terjadi di
setiap orang yang kenal dekat dengan penolakan. Iya, mereka memang akan terus
wondering kenapa bukan gue? Apa yang salah?
Sering banget ga sih denger 'jodoh ditangan
tuhan' atau 'jodoh udah ada yang atur' atau yg lebih lucu lagi 'jodoh ga
mungkin ketuker'. Gue pernah mendiskusikan konsep jodoh dengan seorang teman,
yang intinya membahas tentang pertanyaan-pertanyaan penasaran gue seperti:
1. Jodoh kan udah diatur ya, terus nasib nya
orang yang udah menikah dan selingkuh, itu tandanya dia 'salah jodoh' trus
akhirnya nemuin jodoh baru nya gitu?
2. Terus gimana sama
orang yg dipoligami? Jadi ya kalau manusia diciptakan berpasangan which is
dalam kepala gue sepasang ya satu dan satu, untuk orang yg poligami apa dong
namanya? Jadi jodoh kita bisa aja dong orang yang udah bersuami?
3. Untuk orang yang
menikah lalu kemudian pasangannya meninggal, lalu dia menikah lagi, dua-dua nya
bisa dibilang jodohnya? Atau gimana?
Well semua pertanyaan
itu sangkutannya tetep sama iman, gimana keimanan kita sama Allah yang udah
kasih kita info tentang jodoh, kalau gue berhentiin pertanyaan gue sampai
disini dan malah gak cari tahu justru hal-hal ini yang bikin gue skeptis sama agama
sendiri. Padahal kan keimanan gue bisa nambah kalau gue
sendiri cari tahu.
Dan gue akhirnya mencari tahu, gimana
sebenernya konsep jodoh itu sendiri. Gue ga akan kasih kuliah tentang
perjodohan disini yang jelas, Allah tahu apa yang terbaik. Again kalimat
cliché. Tapi semua akan bermakna kalau lo benar-benar punya iman dan kuncinya emang satu: sabar. Oh iya satu lagi, memantaskan diri. Agak sebel sih sama orang yang muluk banget pengen punya suami hafidz qur'an eh doi sendiri hafal satu juz aja nggak. Ya pinter-pinternya kita buat introspeksi dan makin ningkatin kualitas diri. Mau kasih apa lo ke mertua? modal cantik doang? Gue pribadi cari nya tuh partner. Partner hidup. Bukan yang level nya jauh diatas gue, tapi yang setara. Biar maju bareng, berkembang bareng, jadi lebih baik bareng-bareng dan insyaallah masuk surga juga bareng. Gue ga pernah muluk sih kayaknya sejauh ini, or am I? Alifa bilang gue picky. Yee, picky gimana orang yang di pick aja ga ada.
Temen gue pernah lihat meme ini di 9GAG,
tulisannya intinya kalau aja princess (yep serial disney) butuh second thought
untuk setiap hal yang diperlukaan, nasib hidupnya ga akan begitu, ga akan dia
ketemu sama prince charming, ga akan ada kalimat happily ever after. Dan dia kasih ke gue itu, karena dia tau gue
anaknya mikir banget untuk semua actions yang akan gue ambil. Well gue ga sependapat dengan meme diatas. Life
isn't a fairy tale dude, reality is hard. Menyakitkan tapi yang nyata ya
begitu. Definition of happiness buat tiap orang aja beda-beda, happy-endingnya gue ya belum tentu sama sama happy-endingnya lo.
Poinnya gue kemana
sih? Gue juga bingung. Hahaha. Intinya ini cuma cuplikan kecil dari pertanyaan-pertanyaan gue tentang universe, yang sebenernya kalau mau gue cari jawabannya ada dan
jelas diatur dalam kitab yang gue bawa-bawa. Asal kita sebagai manusia yg
dikasih akal mau aja gitu cari tau jawaban atas 'kepenasaranan' kita. Dan satu
lagi, surround yourself with good religious people bukan yang judgemental dan
mandang lo sebelah mata. Orang begitu tinggalin aja, ga akan berhasil ga dakwahnya.
Aachen, 7.8.18
