Citra Puspita Maharani
  • Home
  • Portfolio


"Flo mana?" tanyamu padaku. Flounder, janji mu yang kau tepati, pengingatku akan memori kita beberapa minggu lalu. Siang itu memang jadwalnya kita bertatap muka, meski hanya lewat dunia maya. Karena jarak enam ribu mil ini sudah pasti jadi hambatan bertemu. Bukan jadwal pasti dan rutin, hanya sisa waktu yang bisa kita korbankan untuk satu sama lain.

"Ini" ku ambil Flo dan mengarahkan nya ke layar. 

"Sini aku mau ngomong"



Here is to sum up my journey for almost 4 years. I know those aren‘t enough to express how grateful I am. 
Firstly I want to thank Allah, for giving me the opportunity to do my bachelor here, for everything that made this possible. Then my number one support system; mom and dad. For giving me all the stuff I need for school, for trusting my decisions, for the words those awakened my tired soul. Unan dan Ugi, for trusting my ability and for not pushing too hard.

My Friend who also came with me to Germany since day 1; Deasy Gayatri, for helping me and understanding my childish acts, Riska Muliyanasari, for listening all my doubts and being there whenever I was down, Christyne Widya Arryani, for teaching me how to not give a damn about everything, Ridwan Hanif Abdurrasyid, for letting me choose my own path, and all my fellas; Vicky Fajar Adeputra, Dea Luxita Guntala, Rahmat Diaz Hermawan, Akoska Pratama, Arief Eko Pramono, Audita Rulyandi.

My Studkol sweetheart: Paula Jevoni, for saying that I have potentials Fath Ainia Senja, for being a successful archi mate, Ariya Nalasetya for all the nice things you did, Adillah Mizwar, for bringing joy and laughter, Agung Gde, for all the sarcasm and tweets, Alifa Sarajevani, for all the late night calls and texts, Atina Taghsya for visiting me so often back then.

My beloved Hongyunlai; Ridho Ulul Azmi, for your companion through my campus life(and Björn too!), Citra Anjani Widyaningrum, for taking a good care of me, Nada Syakira Yulfinov, for being there whenever I need, Naila Karima, the only friend I had in Aachen back then, Yuni Widyastuti, for teaching me life, Ferina Indriyani, for listening all my guilts, Shanie Gumilang, for making me happy all the time, Ahsan Alamas for being my role model.

My Temanku; Fadel Muhammad, for all the curhat sessions and stuff, Ihsandi Dwinanto for being the best work partner, Randy Cendieno for being a very good friend whom I can count on.
For those whose names are unwritten, I am sorry. That doesn't me that you are not impactful for my life.



Thank you for those who are reading this :)


Much love,
Citra Puspita Maharani, B.Sc. RWTH in Architecture




Hi, 
I did the photo session last week at my friend's house.





She was using my cardigan because her outfit was not fit to our first concept: cute and classy. The flower crown I made for my friend's baby shower (I'll post her pregnancy photo session soon)


Session 2: Bedroom Chill



It was raining outside and the weather was cloudy, so I tried to manage the light and shadow and directed her to pose as if she was enjoying her Sunday Afternoon.



                                        



    There will be more photo session coming. I'm doing it for fun! Enjoy then :)

Belum pernah dengan mata telanjangku melihat
Bangunan tinggi sumber cahaya
Penunjuk arah bagi kapal-kapal
Yang bahkan telah melaut untuk waktu berabad-abad

Berapa lama sampai mereka sadar arti sebuah mercusuar? 

Kapal mu mungkin menuju kesana
Daratan luas yang kamu impikan sejak lama
Menjemput asa mu, jatuh kan jangkar dan kau berada disana

Tepian daratan untuk bersauh
Yang kau sadari setelah nya kau tak lagi ingin menjauh
Tersenyum, sadar kau telah datang ke tempat yang kau agungkan sebagai tempat berlabuh

Sekilas kau melirik mercusuar di ujung sana
Menatap dan bergumam
“Terima kasih, cahaya mu menuntunku ke rumah“
Karena bukan mercusuar tempat sesungguhnya singgah

Aku termangu, 
mereka tak tahu


Mercusuar itu aku. 
"Di suatu waktu di dunia yang lain
Mungkinkah kamu dan aku bersatu?"

Kata-kata diatas kedengerannya galau banget ya? Kasian banget gitu mungkin karena formulanya yang terlalu baku. Versi gue nya mungkin kayak gini "mungkin ga sih lo suatu hari nanti ga di dunia ini, entah di dunia yg mana, lo melihat gue dan memilih gue?"

Gimana? Masih miris juga?

Well, memang itu sih denotasi nya, ga ada kata konotasi sama sekali yang sok puitis, itu kalimat tanya yg sebenarnya, bukan dengan nada desperate tapi cuma penasaran, pengen tahu. Kayaknya ini terjadi di setiap orang yang kenal dekat dengan penolakan. Iya, mereka memang akan terus wondering kenapa bukan gue? Apa yang salah?

Sering banget ga sih denger 'jodoh ditangan tuhan' atau 'jodoh udah ada yang atur' atau yg lebih lucu lagi 'jodoh ga mungkin ketuker'. Gue pernah mendiskusikan konsep jodoh dengan seorang teman, yang intinya membahas tentang pertanyaan-pertanyaan penasaran gue seperti:

1. Jodoh kan udah diatur ya, terus nasib nya orang yang udah menikah dan selingkuh, itu tandanya dia 'salah jodoh' trus akhirnya nemuin jodoh baru nya gitu?
2. Terus gimana sama orang yg dipoligami? Jadi ya kalau manusia diciptakan berpasangan which is dalam kepala gue sepasang ya satu dan satu, untuk orang yg poligami apa dong namanya? Jadi jodoh kita bisa aja dong orang yang udah bersuami?
3. Untuk orang yang menikah lalu kemudian pasangannya meninggal, lalu dia menikah lagi, dua-dua nya bisa dibilang jodohnya? Atau gimana?

Well semua pertanyaan itu sangkutannya tetep sama iman, gimana keimanan kita sama Allah yang udah kasih kita info tentang jodoh, kalau gue berhentiin pertanyaan gue sampai disini dan malah gak cari tahu justru hal-hal ini yang bikin gue skeptis sama agama sendiri. Padahal kan keimanan gue bisa nambah kalau gue sendiri cari tahu.

Dan gue akhirnya mencari tahu, gimana sebenernya konsep jodoh itu sendiri. Gue ga akan kasih kuliah tentang perjodohan disini yang jelas, Allah tahu apa yang terbaik. Again kalimat cliché. Tapi semua akan bermakna kalau lo benar-benar punya iman dan kuncinya emang satu: sabar. Oh iya satu lagi, memantaskan diri. Agak sebel sih sama orang yang muluk banget pengen punya suami hafidz qur'an eh doi sendiri hafal satu juz aja nggak. Ya pinter-pinternya kita buat introspeksi dan makin ningkatin kualitas diri. Mau kasih apa lo ke mertua? modal cantik doang? Gue pribadi cari nya tuh partner. Partner hidup. Bukan yang level nya jauh diatas gue, tapi yang setara. Biar maju bareng, berkembang bareng, jadi lebih baik bareng-bareng dan insyaallah masuk surga juga bareng. Gue ga pernah muluk sih kayaknya sejauh ini, or am I? Alifa bilang gue picky. Yee, picky gimana orang yang di pick aja ga ada. 

Temen gue pernah lihat meme ini di 9GAG, tulisannya intinya kalau aja princess (yep serial disney) butuh second thought untuk setiap hal yang diperlukaan, nasib hidupnya ga akan begitu, ga akan dia ketemu sama prince charming, ga akan ada kalimat happily ever after. Dan dia kasih ke gue itu, karena dia tau gue anaknya mikir banget untuk semua actions yang akan gue ambil. Well gue ga sependapat dengan meme diatas. Life isn't a fairy tale dude, reality is hard. Menyakitkan tapi yang nyata ya begitu. Definition of happiness buat tiap orang aja beda-beda, happy-endingnya gue ya belum tentu sama sama happy-endingnya lo.


Poinnya gue kemana sih? Gue juga bingung. Hahaha. Intinya ini cuma cuplikan kecil dari pertanyaan-pertanyaan gue tentang universe, yang sebenernya kalau mau gue cari jawabannya ada dan jelas diatur dalam kitab yang gue bawa-bawa. Asal kita sebagai manusia yg dikasih akal mau aja gitu cari tau jawaban atas 'kepenasaranan' kita. Dan satu lagi, surround yourself with good religious people bukan yang judgemental dan mandang  lo sebelah mata. Orang begitu tinggalin aja, ga akan berhasil ga dakwahnya.

Aachen, 7.8.18
Newer Posts Older Posts Home

Search This Blog



You are currently reading some of my thoughts and enjoying my arts. I'm currently doing my master's study in architecture, this page show what I do beside architecture. Feel free to comment and connect to my other platforms.

POPULAR POSTS

  • (no title)
  • Amsterdam Photo Gallery
  • Paris Photo Gallery (Dec 2014)
  • My Umrah Story: Umrah Saat Pandemi
  • My Umrah Story: What to Pack
  • Losing People You Love (Part 2) - The Death of My Grandmother
  • Losing People You Love (Part 3) - Saying Goodbye to Adalbertsteinweg 243
  • Losing People You Love - The Death of my Grandfather
  • Skenario Terbaik
  • I thank you all :)

Blog Archive

  • ▼  2022 (4)
    • ▼  January (4)
      • My Umrah Story: What to Pack
      • My Umrah Story: Umrah Saat Pandemi
      • Losing People You Love (Part 3) - Saying Goodbye t...
      • Losing People You Love (Part 2) - The Death of My ...
  • ►  2021 (2)
    • ►  December (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2020 (2)
    • ►  November (1)
    • ►  August (1)
  • ►  2019 (2)
    • ►  February (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2018 (5)
    • ►  November (2)
    • ►  October (1)
    • ►  July (1)
    • ►  April (1)
  • ►  2017 (5)
    • ►  December (1)
    • ►  August (1)
    • ►  July (1)
    • ►  March (1)
    • ►  February (1)
  • ►  2016 (13)
    • ►  October (1)
    • ►  September (1)
    • ►  July (2)
    • ►  June (1)
    • ►  May (3)
    • ►  February (3)
    • ►  January (2)
  • ►  2015 (2)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
  • ►  2014 (2)
    • ►  July (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2013 (2)
    • ►  October (1)
    • ►  August (1)

Categories

  • Daily 5
  • Fall 1
  • Feelings 24
  • Food 1
  • Germany 7
  • Pandemic 5
  • Passion 6
  • Photos 5
  • Recipe 3
  • Seasons 2
  • Summer 1
  • Traveling 6
  • True Story 2
  • Umrah Story 2
  • Winter 1
Copyright Maharani Citra. Powered by Blogger.

About Me

My photo
Citra Puspita Maharani
View my complete profile

Popular Posts

  • (no title)
  • Amsterdam Photo Gallery
  • Paris Photo Gallery (Dec 2014)

Contact Form

Name

Email *

Message *

Copyright © Citra Puspita Maharani. Designed by OddThemes