Citra Puspita Maharani
  • Home
  • Portfolio
Welcome to my miserable life!

Gue mengutuk setiap menit atas perasaan berlebihan ynag kadang tercipta tanpa gue sadari, tanpa otak gue perintahkan. Gue benci, sangat, saat gue lemah, secara psikis, gue ngga suka. Gue benci bergantung dengan orang, karena itu I rarely ask for help. Dan ketika gue rasa gue amat butuh, gue baru akan meminta tolong, if there is something I really can handle. Dan berkali-kali gue tegaskan ke diri gue sendiri supaya nggak seratus persen meletakan hope ke orang yang gue mintain tolong. But it was really hard tho. Ketika gue butuh bantuan, gue akan seratus persen percaya ke orang yang gue mintai tolong, that is why gue ga akan minta tolong sembarang orang. This one must be so reliable.

Tapi sepemilih apapun gue, secermat apapun gue memilih orang untuk gue mintain tolong, gue tetep aja dikecewain, atau lebih tepatnya merasa kecewa. Bukan salah mereka, salah gue terllau punya ekspektasi ketinggian, bahwa mereka bisa seratus persen melakukan apa yang sudah gue harapkan.

Dan parahnya ketika gue kecewa sama orang, gue akan terang-terangan menunjukan itu. No fake emotion or poker face. Gue akan straight nunjukin ke mereka bahwa gue kecewa, entah mereka realize atau ngga ( it's better not to realize that ).

So daripada semakin banyak list orang yang bikin gue kecewa, gue lebih baik menghindar, menghindar untuk minta tolong orang, menghindar walaupun mereka terang-terangan bilang "Kalau butuh bantuan bilang ya Cit". I don't really know if they mean it or not. I'd rather stand on my own two feet.

Aachen, 14.09.2016
22:01


Bulan sudah sepenuhnya muncul
Hening suara malam dan angin yang berhembus makin kencang
Mengantarkannya pada suatu renungan
Seperti sebuah refleksi diri, dia bertanya
Apa gerangan yang membuatnya bisa jatuh cinta?
Atau tepatnya jatuh hati.

Mencari-cari sebuah alasan, rasanya kurang pantas
Bukannya cinta itu murni tanpa syarat, tanpa alasan?
Dia yakin cinta yang dimiliki nya bukan cinta yang pamrih
Dan bukan juga cinta yang egois

Semakin larut belum ada satu huruf pun tertulis di layar ponselnya
Ya, dia terbiasa untuk bercerita dengan sang benda kecil kesayangannya itu
Bukannya tak ingin berbagi, dia hanya tidak ingin merepotkan orang lain

Lalu kilas balik kisah masa lalu berputar di kepalanya
Saat dia pertama kali bertemu dambaan hati
Semata karena sebuah kesamaan, sama-sama mencintai dunia fotografi

Lalu kemudian kepada kejadian-kejadian lainnya
Seperti misalnya: bertukar buku-buku fiksi
Karena ternyata mereka memang menyukai dunia sastra

Terakhir adalah ketika dia disana
Ruang persegi yang tidak terlalu besar
Mengantarkan dia untuk tetap tinggal karena sebuah tugas yang harus diselesaikan
Lambat laun suara yang dia cukup hafal
Untaian nada dari sang penyanyi idaman mengalun mengisi malam
Ah, lagi-lagi rupanya mereka mempunyai selera musik yang sama

Tapi diantara semua kegemaran yang mereka punya bukan itu alasan nya
Dia pun bukanlah sosok wanita yang jatuh cinta lewat fisik
Tapi dia harus mengakui bahwa sebuah lesung di pipi kiri itu cukup mengagumkan
Membuatnya ingin terus melihat, dan menunggu saat-saat sang lelaki tersenyum
"Manis sekali ya" gumamnya. Apa ada orang lain yang punya pendapat sama?

Akhirnya dua kalimat berhasil ditulis di catatan ponselnya.
Cukup dua karena cinta bukan untuk dijabarkan dengan kata-kata

"Saya menyerah akan rasa nyaman. Rasa itu yang ada di hati saya setiap kali saya bersama kamu."

Itu adalah alasan terkuatnya mengapa dia bisa sampai jatuh cinta


Aachen, 09.07.2016
21:59
Pada suatu sore di hari yang cukup spesial
Diluangkannya waktu untuk mengulurkan tangan
Sore itu padahal turun hujan
Hanya sebentar rupanya, lalu mentari kembali menyapa 
Memang cuaca di kota itu segalau perasaan nya

Dia cukup suka hujan
Hujan mengingatkannya akan kenangan manis dulu
Ya, dulu saat semuanya baik-baik saja

Hari itu saat turun hujan dia justru gelisah
Bukan tanpa alasan
Ada satu hal yang terlalu mengganggu
Mengganggu indra penglihatan, indra pendengaran dan indra perasaannya
Tumpukan gelisah sudah semakin membuncah, 
Sebentar lagi padahal senja, waktu terbaik baginya 
Sayangnya dia sudah tidak lagi sanggup berada disana

Dia ingin pergi, 
Hatinya masih ingin disini, 
Teringat bahwa ada seseorang yang sangat butuh bantuan

Bayangan peluh orang itu dan lelah raut wajahnya terus membayangi
Membuat dia ingin terus ada disana, meringankan sedikit bebannya.

Tapi otaknya menyuruhnya pergi
Sebelum kelemahan nya terlihat
Iya akan sangat benci jika orang lain memandangnya selemah itu
Belum lagi jika terlalu banyak orang yang melontarkan pertanyaan.

Dia benci, dia terlalu lemah
Bahkan rasa itu menguasai seluruh otaknya
Dia benci itu, lagi-lagi dia tertipu senja
Dulu, senja selalu jadi hal favoritnya bahkan diatas hujan

Tetapi memang benar, sejak saat itu senja tak lagi sama
Senja artinya berpisah dengan mentari
Tapi bukankah setelah senja hilang, bulan akan datang?

Aachen, 7.7.2016

Aku, seperti hujan bulan juni.
Diam, sunyi, melamun tanpa kata.
Menunggu, sampai ada yang datang dan berkata
'tidak ada hujan bulan juni'
Dan bersikeras mereka salah.
Buktinya aku ada, di bulan juni.
Dan aku bersumpah
Demi payung yang melindungi kita dari gerimis kala itu.
Jalanan sepi, mungkin mereka takut, atau justru hanyut dengan kenyamanan sendiri
Sementara kita,
Tidak tahu benar apa yang terjadi
Selain hujan di bulan juni.

Dua makhluk tanggung berusaha berbagi keresahan. Jarak pun tak menghalangi mereka untuk sama-sama mengerti. Lewat sambungan telefon, dia utarakan keresahan yang mengganggu sudah hampir sebulan ini, Dia, sang pemeran utama bukan lah anak yang tertutup, Dia mampu untuk mengatasi masalahnya sendiri. Jika dia sudah mau berbagi, pastilah masalah tersebut sangat rumit.

"Jadi menurutmu bagaimana?" Itu suara si pendengar, teman akrabnya pemeran utama yang sudah bertahun-tahun, sudah pasti paham watak baik dan buruk sang pemeran utama.

"Tidak paham, aku ingin terus diam tapi.. rasanya salah. Aku tidak betah. Tetapi mau bertanya pun tidak punya keberanian. Kau tahu kan nyali ku tidak sebesar itu kalau menyangkut orang yang.. katakanlah aku kagumi"

"Ada baiknya bertanya" jeda lama, karena baik sang pendengar dan sang pemeran utama tak paham mau berkata apa. Terdengar hembusan nafas sang pendengar diujung sana, seakan ingin melanjutkan pembicaraan. " Kau tahu tidak, aku adalah sahabat yang bahagia sekali hari ini "

"Yah bagus sekali, aku bimbang seperti ini dan kau malah bahagia"

Sang pendengar tertawa. Tidak sanggup menutupi rasa bahagiannya. "Aku bahagia, karena ternyata sahabatku sudah mau berbagi cerita, sudah tidak merasa apa apa harus dikerjakan sendiri. Kamu tahu tidak? kami kagum sesungguhnya akan kemampuan mu mandiri, kemampuanmu menyelesaikan apa-apa sendiri, tapi kamu harus tau, kami bisa membantu, kami bisa membantu meringankan bebanmu, jangan merasa sendiri lagi. beri kami sedikit kepercayaan. Aku juga sangat senang karena sekian lama rasanya tidak melihatmu seperti ini"

"Seperti ini bagaimana?" sang pemeran utama tak sabar memotong

"Ya begini, bicara banyak tentang cinta, kembali salah tingkah, mulai menggunakan bahasa yang panjang kalau aku kirim pesan, selalu tersenyum bahagia. Dan aku akan sangat beruntung jika aku tahu kau dan dia bisa bersama"

Terdengar suara hembusan nafas sang pemeran utama, bagaikan tak setuju dengan kalimat barusan. "Bisa bersama bagaimana? kamu tahu posisi ku sekarang seperti apa. Dia dibanding aku itu tidak ada apa apa nya, ralat, aku yang tidak ada apa apa nya. Semua setuju kalau dia lelaki baik, sedangkan aku? aku rasa orang-orang berharap aku enyah saja. Lagipula aku tidak cantik. Mana mungkin dia bisa punya perasaan?"

Sialnya, sang pendengar malah kembali tertawa. "kalau begitu, buat dirimu menjadi lebih baik, jadi kau lebih pantas jika bersama dia kelak."

ya, memang semua yang sang pendengar katakan benar.

"Terima kasih banyak ya, maaf kalau aku akan sering bercerita kedepannya"

"Tidak masalah sama sekali, sudah ku katakan justru aku senang"


Aachen, 26.05.2016
14:12
Newer Posts Older Posts Home

Search This Blog



You are currently reading some of my thoughts and enjoying my arts. I'm currently doing my master's study in architecture, this page show what I do beside architecture. Feel free to comment and connect to my other platforms.

POPULAR POSTS

  • (no title)
  • Amsterdam Photo Gallery
  • Paris Photo Gallery (Dec 2014)
  • My Umrah Story: Umrah Saat Pandemi
  • My Umrah Story: What to Pack
  • Losing People You Love (Part 2) - The Death of My Grandmother
  • Losing People You Love (Part 3) - Saying Goodbye to Adalbertsteinweg 243
  • Losing People You Love - The Death of my Grandfather
  • Skenario Terbaik
  • I thank you all :)

Blog Archive

  • ▼  2022 (4)
    • ▼  January (4)
      • My Umrah Story: What to Pack
      • My Umrah Story: Umrah Saat Pandemi
      • Losing People You Love (Part 3) - Saying Goodbye t...
      • Losing People You Love (Part 2) - The Death of My ...
  • ►  2021 (2)
    • ►  December (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2020 (2)
    • ►  November (1)
    • ►  August (1)
  • ►  2019 (2)
    • ►  February (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2018 (5)
    • ►  November (2)
    • ►  October (1)
    • ►  July (1)
    • ►  April (1)
  • ►  2017 (5)
    • ►  December (1)
    • ►  August (1)
    • ►  July (1)
    • ►  March (1)
    • ►  February (1)
  • ►  2016 (13)
    • ►  October (1)
    • ►  September (1)
    • ►  July (2)
    • ►  June (1)
    • ►  May (3)
    • ►  February (3)
    • ►  January (2)
  • ►  2015 (2)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
  • ►  2014 (2)
    • ►  July (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2013 (2)
    • ►  October (1)
    • ►  August (1)

Categories

  • Daily 5
  • Fall 1
  • Feelings 24
  • Food 1
  • Germany 7
  • Pandemic 5
  • Passion 6
  • Photos 5
  • Recipe 3
  • Seasons 2
  • Summer 1
  • Traveling 6
  • True Story 2
  • Umrah Story 2
  • Winter 1
Copyright Maharani Citra. Powered by Blogger.

About Me

My photo
Citra Puspita Maharani
View my complete profile

Popular Posts

  • (no title)
  • Amsterdam Photo Gallery
  • Paris Photo Gallery (Dec 2014)

Contact Form

Name

Email *

Message *

Copyright © Citra Puspita Maharani. Designed by OddThemes