FINALE.
FINISH.
FIN.
THE END.
Aku kira, dia akan jadi sandaran ku yang terakhir.
Banyak hal memang, tapi tidak terlalu. Rencana kami, cerita hidup kami, apapun itu yang membuatku merasa. Aku butuh orang seperti dia. Kualitas dirinya dan juga sifat buruknya yang satu paket.
Tapi misalnya aku sekarang mundur, dari apapun yang kami jalani sekarang, itu sungguhnya baik, tidak hanya buatku, tetapi juga dia. Yang masih harus berjuang melawan masa lalunya, yang harus tahu apa yang dia mau, yang mungkin harus mencari apa yang dia butuhkan.
Aku hanya berharap, doaku dikabulkan. Sudah begitu saja.
"Ntar ya", selalu ucapnya. Sekarang giliranku yang berkata "Lihat nanti ya, Mas"
Aachen,
19.11.20
Di ruang tamu, menonton Netflix 'The World's Most Extraordinary Homes'.
"Gue pengen belajar, tapi kepala masih pusing"
"Yaudah malam minggu gini, nonton aja dulu"
"Malam minggu mah pacaran kali. Pacaran yuk?"
"Duh, definisi pacaran tuh apa deh?"
"Ga tahu gue, di KBBI aja ga ada artinya"
"Kalo pacaran tuh pake sayang-sayangan ga sih?"
"Kayaknya iya sih"
sampai satu episode habis lalu dia berkata,
"Citra mau?"
"hah?"
dan tidak ada suara setelah itu.
Beberapa hari lalu saya berusaha meninggalkan embel-embel sebagai silent majority. Berusaha untuk meluruskan hal-hal yang mungkin bagi beberapa mayoritas terlihat sebagai anomali (clearly karena cara pandang saya yang gerbeda). Padahal manusia diberkahi akal, bukan cuma otak ya, untuk apa? Ya kalian sendiri pasti paham.
Saya sedih, jujur. Bumi pertiwi yang enam tahun lalu saya tinggalkan menjadi lebih….. berbeda (dalam denotasi negatif). Dan saya mungkin termasuk orang yang beruntung, tidak merasakan langsung dampak perbedaan yang terjadi. Narasi-narasi politik yang kian hari dicampur dengan isu agama yang sudah jelas tidak benar keaslian seolah jadi santapan sehari-hari. Inikah makanan yang dikonsumsi masyarakat Indonesia saat ini?
Heyya,
apa kabar? semoga selalu sehat dan tidak pernah lupa bersyukur. Citra kabarnya baik, ga ada yang nanya ya? hahaha. Dalam beberapa hari masa terpuruk gue kemarin, mungkin bahkan saat itu adalah masa terlama gue ga keluar rumah; sekitar sepuluh hari, dua hari terakhir ini gue memutuskan untuk pull myself together. Kembali jadi Citra yang sibuk dan produktif, biar pikiran bisa jadi netral dan less depressed. Iya gue mengakui, gue lagi di fase depresi.
Kenapa gue berani speak up?
Gue selalu korelasiin lagu dengan situasi yang waktu gue lakuin saat gue denger lagunya. Semacam ada film dan scene-scene yang muter dikepala gue. Lengkap dengan aktor-aktrisnya. Gue kalo lagi suka lagu, bisa muter itu ratusan kali sehari. Ada yang gini juga?
Ada lagu yang selalu narik gue untuk flashback. Awalnya lagu ini yang nemenin gue di pesawat berjam-jam, ralat bahkan di kereta juga. Aachen-Amsterdam-Jakarta. Jakarta-Pekalongan. Pekalongan-Jakarta. Jakarta-Amsterdam-Aachen. Lalu kedua kalinya di bulan yang hampir berdekatan, Aachen-Frankfurt-Riyadh-Jakarta. Jakarta-Yogyakarta. Yogyakarta-Jakarta. Jakarta-Riyadh-Frankfurt-Aachen. Lagu yang sama gue puter sampe gue ketiduran. Ga ada korelasi liriknya, hanya lagu ini jadi theme song gue pulang.
Dan pas bagian ini, selalu narik gue flashback akan entah apa kejadian yang lg clingy di otak.
"And we danced in the room
Gue flashback dimana gue bertemu dia lagi.