Citra Puspita Maharani
  • Home
  • Portfolio
Pada suatu sore di hari yang cukup spesial
Diluangkannya waktu untuk mengulurkan tangan
Sore itu padahal turun hujan
Hanya sebentar rupanya, lalu mentari kembali menyapa 
Memang cuaca di kota itu segalau perasaan nya

Dia cukup suka hujan
Hujan mengingatkannya akan kenangan manis dulu
Ya, dulu saat semuanya baik-baik saja

Hari itu saat turun hujan dia justru gelisah
Bukan tanpa alasan
Ada satu hal yang terlalu mengganggu
Mengganggu indra penglihatan, indra pendengaran dan indra perasaannya
Tumpukan gelisah sudah semakin membuncah, 
Sebentar lagi padahal senja, waktu terbaik baginya 
Sayangnya dia sudah tidak lagi sanggup berada disana

Dia ingin pergi, 
Hatinya masih ingin disini, 
Teringat bahwa ada seseorang yang sangat butuh bantuan

Bayangan peluh orang itu dan lelah raut wajahnya terus membayangi
Membuat dia ingin terus ada disana, meringankan sedikit bebannya.

Tapi otaknya menyuruhnya pergi
Sebelum kelemahan nya terlihat
Iya akan sangat benci jika orang lain memandangnya selemah itu
Belum lagi jika terlalu banyak orang yang melontarkan pertanyaan.

Dia benci, dia terlalu lemah
Bahkan rasa itu menguasai seluruh otaknya
Dia benci itu, lagi-lagi dia tertipu senja
Dulu, senja selalu jadi hal favoritnya bahkan diatas hujan

Tetapi memang benar, sejak saat itu senja tak lagi sama
Senja artinya berpisah dengan mentari
Tapi bukankah setelah senja hilang, bulan akan datang?

Aachen, 7.7.2016

Aku, seperti hujan bulan juni.
Diam, sunyi, melamun tanpa kata.
Menunggu, sampai ada yang datang dan berkata
'tidak ada hujan bulan juni'
Dan bersikeras mereka salah.
Buktinya aku ada, di bulan juni.
Dan aku bersumpah
Demi payung yang melindungi kita dari gerimis kala itu.
Jalanan sepi, mungkin mereka takut, atau justru hanyut dengan kenyamanan sendiri
Sementara kita,
Tidak tahu benar apa yang terjadi
Selain hujan di bulan juni.

Dua makhluk tanggung berusaha berbagi keresahan. Jarak pun tak menghalangi mereka untuk sama-sama mengerti. Lewat sambungan telefon, dia utarakan keresahan yang mengganggu sudah hampir sebulan ini, Dia, sang pemeran utama bukan lah anak yang tertutup, Dia mampu untuk mengatasi masalahnya sendiri. Jika dia sudah mau berbagi, pastilah masalah tersebut sangat rumit.

"Jadi menurutmu bagaimana?" Itu suara si pendengar, teman akrabnya pemeran utama yang sudah bertahun-tahun, sudah pasti paham watak baik dan buruk sang pemeran utama.

"Tidak paham, aku ingin terus diam tapi.. rasanya salah. Aku tidak betah. Tetapi mau bertanya pun tidak punya keberanian. Kau tahu kan nyali ku tidak sebesar itu kalau menyangkut orang yang.. katakanlah aku kagumi"

"Ada baiknya bertanya" jeda lama, karena baik sang pendengar dan sang pemeran utama tak paham mau berkata apa. Terdengar hembusan nafas sang pendengar diujung sana, seakan ingin melanjutkan pembicaraan. " Kau tahu tidak, aku adalah sahabat yang bahagia sekali hari ini "

"Yah bagus sekali, aku bimbang seperti ini dan kau malah bahagia"

Sang pendengar tertawa. Tidak sanggup menutupi rasa bahagiannya. "Aku bahagia, karena ternyata sahabatku sudah mau berbagi cerita, sudah tidak merasa apa apa harus dikerjakan sendiri. Kamu tahu tidak? kami kagum sesungguhnya akan kemampuan mu mandiri, kemampuanmu menyelesaikan apa-apa sendiri, tapi kamu harus tau, kami bisa membantu, kami bisa membantu meringankan bebanmu, jangan merasa sendiri lagi. beri kami sedikit kepercayaan. Aku juga sangat senang karena sekian lama rasanya tidak melihatmu seperti ini"

"Seperti ini bagaimana?" sang pemeran utama tak sabar memotong

"Ya begini, bicara banyak tentang cinta, kembali salah tingkah, mulai menggunakan bahasa yang panjang kalau aku kirim pesan, selalu tersenyum bahagia. Dan aku akan sangat beruntung jika aku tahu kau dan dia bisa bersama"

Terdengar suara hembusan nafas sang pemeran utama, bagaikan tak setuju dengan kalimat barusan. "Bisa bersama bagaimana? kamu tahu posisi ku sekarang seperti apa. Dia dibanding aku itu tidak ada apa apa nya, ralat, aku yang tidak ada apa apa nya. Semua setuju kalau dia lelaki baik, sedangkan aku? aku rasa orang-orang berharap aku enyah saja. Lagipula aku tidak cantik. Mana mungkin dia bisa punya perasaan?"

Sialnya, sang pendengar malah kembali tertawa. "kalau begitu, buat dirimu menjadi lebih baik, jadi kau lebih pantas jika bersama dia kelak."

ya, memang semua yang sang pendengar katakan benar.

"Terima kasih banyak ya, maaf kalau aku akan sering bercerita kedepannya"

"Tidak masalah sama sekali, sudah ku katakan justru aku senang"


Aachen, 26.05.2016
14:12
Duduk diam berhadapan dua sosok berlawanan jenis
Dalam kotak persegi dengan aroma kopi menebar
Temaram lampu gantung dengan sinar matahari yang berubah jingga menemani
Tak lupa alat pendengar berwarna putih tersumbat di telinga
Sang lelaki dengan Barasuara
Duduk sambil menggumam lagu, memang suaranya cukup enak didengar


Dihadapannya
Sang perempuan pun sibuk mendengar alunan khas suara Danilla
Mereka memang diam satu sama lain, enggan untuk berbagi keasyikan
Seolah mengerti segala percakapan yang tidak terucap itu
Entah, memang belum ada yang berani
Atau sama-sama menunggu ada yang memulai?


Mereka hanya begitu, larut dengan kenyamanan dari waktu ke waktu
Belum tahu apakah saling sanggup untuk berbagi lagu
Setidaknya bagi mereka kehadiran satu sama lain menghadirkan nafas baru


Tapi tidak ada yang keluar dari lamunan ini
Sampai matahari benar-benar tenggelam dan kopi ketiga di cangkir sang perempuan habis
Dan lagu Buaian terputar berkali-kali

'Tak perlu kau mengerti rasaku kepadamu, biarkan jadi urusanku,
Tak usah ku pahami, rasamu kepadaku, biarkan jadi urusanmu'


Ini akan menjadi skenario terbaik yang pernah mereka bayangkan



Aachen, 23.05.2016
20:43
Here is the glimpse of a small yet beautiful town, the one I call home for the last two years, Aachen.












Photos are all taken by me, not edited. I will post another photos as soon as possible.
Thank you :)

Newer Posts Older Posts Home

Search This Blog



You are currently reading some of my thoughts and enjoying my arts. I'm currently doing my master's study in architecture, this page show what I do beside architecture. Feel free to comment and connect to my other platforms.

POPULAR POSTS

  • (no title)
  • Amsterdam Photo Gallery
  • Paris Photo Gallery (Dec 2014)
  • My Umrah Story: Umrah Saat Pandemi
  • My Umrah Story: What to Pack
  • Losing People You Love (Part 2) - The Death of My Grandmother
  • Losing People You Love (Part 3) - Saying Goodbye to Adalbertsteinweg 243
  • Losing People You Love - The Death of my Grandfather
  • Skenario Terbaik
  • I thank you all :)

Blog Archive

  • ▼  2022 (4)
    • ▼  January (4)
      • My Umrah Story: What to Pack
      • My Umrah Story: Umrah Saat Pandemi
      • Losing People You Love (Part 3) - Saying Goodbye t...
      • Losing People You Love (Part 2) - The Death of My ...
  • ►  2021 (2)
    • ►  December (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2020 (2)
    • ►  November (1)
    • ►  August (1)
  • ►  2019 (2)
    • ►  February (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2018 (5)
    • ►  November (2)
    • ►  October (1)
    • ►  July (1)
    • ►  April (1)
  • ►  2017 (5)
    • ►  December (1)
    • ►  August (1)
    • ►  July (1)
    • ►  March (1)
    • ►  February (1)
  • ►  2016 (13)
    • ►  October (1)
    • ►  September (1)
    • ►  July (2)
    • ►  June (1)
    • ►  May (3)
    • ►  February (3)
    • ►  January (2)
  • ►  2015 (2)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
  • ►  2014 (2)
    • ►  July (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2013 (2)
    • ►  October (1)
    • ►  August (1)

Categories

  • Daily 5
  • Fall 1
  • Feelings 24
  • Food 1
  • Germany 7
  • Pandemic 5
  • Passion 6
  • Photos 5
  • Recipe 3
  • Seasons 2
  • Summer 1
  • Traveling 6
  • True Story 2
  • Umrah Story 2
  • Winter 1
Copyright Maharani Citra. Powered by Blogger.

About Me

My photo
Citra Puspita Maharani
View my complete profile

Popular Posts

  • (no title)
  • Amsterdam Photo Gallery
  • Paris Photo Gallery (Dec 2014)

Contact Form

Name

Email *

Message *

Copyright © Citra Puspita Maharani. Designed by OddThemes